Tidak Membenci Setan

Sebatas yang saya baca, tertulis sebuah ajaran Sufi:

Rabi’ah ditanya, “Apakah kau mencintai Allah?”
Ia menjawab, “Ya.”

“Apakah kau membenci setan?”
Ia menjawab, “Tidak. Cintaku kepada Allah tidak menyisakan waktu bagiku untuk membenci setan.”

Adakalanya kita ini sibuk membenci sesuatu, kondisi, seseorang, atau pihak-pihak yang telah kita hakimi begitu kaku sebagai musuh. Sebagai kubu yang negatif. Tanpa menyadari bahwa kebencian itu menguras banyak tenaga dan waktu untuk mencintai yang mestinya kita cintai.

Dan sejatinya, sebenar-benarnya kita mencintai adalah ketika tidak adanya benci di hati, bahkan termasuk tidak membenci yang kita hakimi begitu kaku sebagai pihak lawannya.

Kalau masih ada benci, ya tidak perlu dilawan rasa benci itu dengan rasa benci terhadap benci. Karena kalau melawan benci dengan benci, tetap saja benci yang bersemayam di hati.

Kalau masih ada benci, temani benci dengan kesadaran diri. Sadari saja rasa benci itu. Bukan justru denial. Bukan justru melarikan diri dari rasa benci dan berlagak sok paling suci.

Dengan hanya menyadari saja rasa benci, barangkali kita akan menemukan Cinta. Bukan cinta yang memusuhi rasa benci. Tapi Cinta yang merangkul cinta lawan dari benci, dan sekaligus merangkul benci itu sendiri.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya

19