Tidak Membenci Patah Hati. Tidak Perlu Segera Move On

Malam itu kamu sedang patah hati, karena abis dighosting pacarmu. Dan temanmu yang diam-diam jatuh cinta kepadamu datang ke apartemenmu, maksud hati menemani.

“Cepet move on ya,” katanya sembari pamit mau pulang.

Jawabmu, “Aku belajar tidak membenci patah hati. Tidak menganggap patah hati sebagai sesuatu yang buruk & harus segera ditinggalkan. Jadi tidak perlu segera move on.”

Iya, patah hati emang sering terasa enggak enak. Namun rasa enggak enaknya lebih karena kita melawan patah hati.

Dari dulu kita sudah terbiasa melawan perasaan yang enggak nyaman kan? Termasuk melawan rasa patah hati. Padahal kenyataannya, apapun perasaan yang kita lawan, akan bikin kita tidak bahagia. Semakin dilawan, semakin menderita.

Bahagia terletak di dalam penerimaan seapaadanya.

Di dalam jatuh cinta, tidak hanya tersusun atas manis, tapi juga ada pahitnya. Di dalam patah hati? Tidak hanya tersusun atas pahit, tapi juga ada manisnya. Jatuh cinta & patah hati, seperti 2 guru yang memberi pelajaran berbeda. Sayang kalau kita hanya mau belajar dari 1 guru.

Jatuh cinta & patah hati, saling melengkapi. Yang satu tidak ada, maka yang satunya juga tidak ada. Menerima patah hati seperti menerima jatuh cinta, memang jalan yang tidak mainstream ya. Tapi itulah jalan pulih seutuhnya. Jalan bertemu cinta sesungguhnya di dalam diri kita.

Kamu yang sungguh memahami cinta, tak lagi begitu mempermasalahkan apakah dirimu jatuh cinta atau patah hati. Tapi kamu bukanlah orang yang tidak punya pendirian ya. Beda. Kamu sangat sadar diri, jatuh cinta & patah hati itu sepasang saudara kembar. Keduanya adalah berkah yang indah.

Langkahnya tertahan saat mau pulang. Dia bertanya, “Lalu apa yang mesti kukatakan kepadamu yang sedang patah hati?” Jawabmu, “Semoga patah hati ini membantu menuntun menemui diri sendiri.” Lalu dia membuka kedua lengan, mendekatkan badan & memberikan pelukan.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

32

Sebelumnya:
«