Tertekan Karena Selalu Nurut?

Yang aku tau, sikapku yang selalu enggak nurut membuatku menderita. Di sisi yang lain, aku diajari atau diwajibkan untuk selalu nurut. Tapi ternyata itu juga membuatku tertekan. Pikiranku cenderung nurut/terpaksa nurut sama orang yang ku”tua”kan. Atau disebut AUTHORITY BIAS.

Aku belajar AUTHORITY BIAS ini salah satunya dari buku The Art of Thinking Clearly – Rolf Dobelli. Sejak kecil aku diajari dari berbagai pihak baik langsung atau tidak, kurang lebih begini: “Sekali aja gak nurut sama yg di”tua”kan, maka kamu berdosa”. Tentu saja yang di”tua”kan menginginkan kondisi seperti itu. Karena menegaskan kuasanya. Memanjakan ego. Menyenangkan.

Padahal yang kutau, pihak yang di”tua”kan juga bisa melakukan salah. Gak selalu benar. Bahkan bisa bertindak jahat. Seperti ditunjukkan Milgram Experiment. Gambar dari Wikipedia. Experimenter (E) minta subjek (T) buat nyetrum L (hanya pura2 kesetrum). T taunya beneran kesetrum.

E minta T buat nyetrum L, bertahap makin tinggi tegangannya. Saat L kesakitan kesetrum, T ingin berhenti, E tetap minta T buat nyetrum. Sebagian besar T nurut buat nyetrum L. Bahkan sampai ke tegangan paling tinggi. Semata-mata karena nurut sama E yang dianggap punya otoritas.

Sebagian hubungan orang tua-anak masih beranggapan perintah orang tua tidak untuk dipertanyakan. Anak gak berani berpendapat karena takut. Sebagian hubungan suami-istri juga begitu. Terutama suami, masih beranggapan lebih berkuasa. Istri harus selalu nurut. Ini kondisi yang tidak sehat.

Di sisi lain, di berbagai bidang, pihak yang punya otoritas malah ingin terus-terusan dapat pengakuan. Memanjakan ego. Karena dirasa menguntungkan, jadi berusaha nguatin authority bias. Misal: pake seragam, aksesoris, simbol, lambang, gelar yang menunjukkan otoritasnya. Agar terkesan lebih “tinggi”.

Karena kenyataan itu, aku perlahan jadi belajar untuk enggak takut dengan adu pendapat, jadi menjalin komunikasi secara terbuka. Belajar menghapus authority bias. Dan ini berkontribusi banyak dalam menyehatkan hubungan keluarga (orang tua-anak, suami-istri).

Seiring berjalannya waktu, aku juga belajar untuk perlahan mengurangi hausku akan pengakuan. Mengurangi authority bias. Dan juga aku perlu terus menyadari, “Apakah pilihan jalan hidupku lebih karena diriku sendiri atau lebih karena aku hanya nurut aja sama otoritas (orang tua, pasangan, dsb)?”

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

10