Terjebak dalam Labirin Pikiran Sendiri

Dulu saya mengira, agar bahagia, saat pikiran (-) datang, saya perlu menghajarnya dengan pikiran (+). Saat pikiran (+) datang, saya perlu menjeratnya agar tinggal menetap. Tapi ternyata, seiring waktu berjalan, saya sadari bahwa saya perlu melatih diri untuk tidak terlalu terjerat dengan pikiran. Mengurangi membenci pikiran [-]. Mengurangi menginginkan pikiran [+].

Karena pikiran bukan kenyataan. Pikiran itu fiksi yang saya ciptakan sendiri. Lalu saya musuhi sendiri. Dibikin sendiri, lalu dilawan sendiri. Lucu juga ya? 😀

Saya tidak menyadari terciptanya pikiran itu. Seringkali pikiran [+] memberi penghiburan. Seperti berpisah, lalu berpikir: Perpisahan ini pintu untuk bertemu orang yang lebih baik. Tapi kalau berlebih, ini bukanlah hal yang sehat. Kenapa?

Karena tanpa sadar, bikin saya kecanduan pikiran [+] itu. Membuat saya tak sadar akan kenyataan hidup ini. Akibatnya?

Saya sibuk hidup di dunia fantasi pikiran saya sendiri. Denial. Tidak menerima kenyataan. Sering tak sadar penuh hadir utuh di sini-kini. Kayak zombie. Karena pada hakikatnya, setiap pikiran (- atau +) yang mengunci saya akan membuat saya menderita. Pikiran itu akan membentuk pola dan jadi penghalang mata saya untuk melihat kenyataan seapaadanya. Saya jadi kesulitan untuk menerima kenyataan seapaadanya.

Di sisi lain, tanpa sadar saya terus menghindar untuk menerima kenyataan. Apalagi di awal-awal mengalami kenyataan yang enggak sesuai ingin. Kenapa?

Karena makin menerima kenyataan, makin tak terjerat pikiran, makin terasa pahit. Takut, cemas, yang berusaha ditekan dipendam makin terasa. Sehingga tanpa sadar saya milih untuk menekan memendamnya, juga melarikan diri dari perasaan-perasaan yang tak nyaman.

Padahal walau saya tekan pendam sedalam mungkin, melarikan diri sejauh mungkin, rasa takut dan cemas itu selalu ada. Merasa baikan sih, tapi enggak pulih.

Akhirnya saya sadari, ternyata untuk memulihkan batin saya perlu menerima kenyataan seapaadanya. Yang berarti perlu mengurangi cengkeraman pikiran. Mengurangi membenturkan pikiran [-] dengan pikiran [+]. Mengurangi menjerat pikiran [+]. Karena pikiran tidak bisa benar-benar memullihkan.

Saya perlu belajar menerima kenyataan. Tak terlalu larut dengan drama-drama pikiran. Sadari pikiran hanya sebagai pikiran. Bukan kenyataan. Dengan menerima kenyataan, maka akan jadi manusia seutuhnya. Dan hanya dengan jadi manusia seutuhnya, maka akan bisa benar-benar pulih.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

12