Terima Kasih karena Masih Mau Menemaniku Menunggu

“Udah abis kesabaranku!” Suatu hari aku berdiam diri merenung dan mulai berkeluh kesah kepada diriku sendiri. “Aku sudah bingung harus gimana lagi?” ujarku dalam hati dengan nada putus asa.

Sudah menikah selama 8 tahun, berbagai upaya telah kami lakukan, dan sampai sekarang pun kami belum dikaruniai anak. Ejekan dari teman bahkan diremehkan saudara sendiri, yang mungkin maksud mereka hanya bercanda, juga akrab kami telan.

Aku sibuk berpikir. “Sabar sih. Tapi… sabar menunggu sekian lama itu kan enggak mudah!” Kataku kemudian bergumam dalam hati, “Seharusnya kan enggak lama setelah menikah atau setidaknya selang beberapa tahun, lalu kami punya anak!”

Seketika aku terhenyak. Bersamaan saat kubilang, “Seharusnya…”, dentang bel seolah terdengar keras di telingaku. Berkali-kali. Bercampur aduk dengan perasaan tak nyaman karena sudah menunggu selama ini. Kian menggangguku, semakin menjadi-jadi.

Bel itu ternyata sebagai pengingat agar aku menengok ke dalam diriku sendiri.“Seharusnya…” adalah penanda bahwa aku menuntut hidup agar sesuai dengan yang aku mau. Begitu pula yang mungkin kamu alami.  “Seharusnya aku sudah kaya, seharusnya aku sudah sukses, seharusnya aku sudah punya pacar, seharusnya aku sudah ketemu jodohku, seharusnya aku sudah menikah, seharusnya… seharusnya… seharusnya.” Dan “seharusnya…” kian mendesak di kehidupan modern sekarang ini hingga mengganggu keindahan dalam menunggu.

“Jadi yang perlu kita lakukan adalah kurangi mengharuskan hidup ini, agar bisa sabar menunggu?” Aku merenung sambil heran.

“Iya. Tapi menunggu, bukan berarti pula diam saja, tak berusaha apa-apa. Ada waktunya berupaya namun dalam takaran yang tak kurang dan tak berlebih. Menunggu adalah suatu keindahan, karena dalam menunggu kita dipanggil untuk menelisik bahkan membongkar pola-pola kaku yang ada di dalam diri sendiri,” jawabku lagi.

Aku menghela napas. Pelan-pelan mulai ada rasa lega di dada.

“Menunggu adalah sebuah ruang untuk berlatih menempatkan diri sepenuhnya di sini-kini,” aku berusaha menjelaskan. “Melepaskan bayangan masa depan dan ingatan masa lalu yang berkecamuk, yang seringkali merusak keindahan dalam menunggu.”

“Maksudnya?” Tanyaku lagi. Kembali dengan nada heran.

“Bayangkan di saat kamu menunggu. Menunggu berarti persoalan sadar diri, betapa sangat kecilnya kita di semesta yang begitu maha ini.”

Aku menarik napas panjang, lalu menunduk.

“Sehingga ketika menunggu dalam rangka mencapai tujuan tertentu, sebenarnya di dalam menunggu itu kita sedang belajar untuk sadar bahwa kita sudah sampai di tujuan. Tak ada lagi tempat yang harus kita tuju,” ujarku.

“Atau ketika menunggu dalam rangka mendapatkan sesuatu, sejatinya di dalam menunggu itu kita sedang belajar untuk sadar bahwa tak perlu ada lagi yang perlu kita dapatkan. Kita sudah berkecukupan.”

Tiba-tiba, aku tampak tergugu. Mataku meremang dan basah. Dalam diam, aku malu. Membiarkan rasa haru hadir dalam diriku. Aku ingin memeluk Indri, istriku, sambil berbisik, “Terima kasih karena masih mau menemaniku menunggu…”

Demikianlah, seringkali karena terjebak dalam pola pikir: Mengharuskan hidup agar selalu sesuai ingin, membuat kita jadi manusia-manusia yang bodoh dalam hal menunggu. Kita hanya perlu melonggarkan cengkeraman mengharuskan itu, sehingga akan memperluas ruang untuk ikhlas menerima kenyataan. Sambil berulangkali berucap terima kasih atas apapun keadaan sekarang ini. Semua sudah tertata rapi.

Posted on October 17th, 2019