Terganggun dengan Pikiran dan Perasaan Kita Sendiri?

Kita, manusia ini dianugerahi kemampuan untuk melakukan sesuatu di luar kesadaran. Misal menyetir mobil.

Pengendara berpengalaman yang menyetir sudah berulang kali, biasanya mengganti gigi, menggerakkan kaki, dan mengendalikan setir secara otomatis. Tidak benar- benar disadari.

Ini juga terjadi, misal saat berkendara naik motor, bermain alat musik, dan lain sebagainya.

Namun perilaku ini tidak terbatas pada perilaku yang terlihat, seperti mengendarai mobil atau bermain alat musik. Pola batin, misal terkait kesedihan dan kegembiraan, juga bisa terjadi secara otomatis.

Meski kadang sangat berguna, sifat otomatis ini juga bisa menimbulkan masalah serius.

Misal: Setiap kali merasa sedih, reaksi kita secara otomatis adalah makan berlebihan. Kalau dalam jangka waktu tertentu, bisa berdampak tidak baik untuk kesehatan kita. Atau sebaliknya, setiap kali merasa gembira, reaksi kita di luar kesadaran adalah terlalu ikut campur urusan orang lain. Sehingga beresiko menyakiti hati. Tindakan yang terlalu terpengaruh perasaan inilah yang sepertinya dikenal dengan istilah “baper”.

Kita tau bahwa di suatu situasi, pikiran dan perasaan kita muncul begitu cepat dan membentuk semacam siklus. Misal kita menerima kabar yang membuat patah hati (situasi). Kabar ini kemudian secara otomatis memunculkan perasaan sedih atau frustrasi terlebih dahulu (perasaan). Lalu secara otomatis pula perasaan itu mengajak pikiran ikut meramaikan. Kalau kita terjerat dalam siklus pikiran dan perasaan dalam jangka waktu yang lama, barangkali inilah yang disebut dengan “gagal move on”.

Akhirnya kita pun tersadar dan bertanya: “Apa yang sebaiknya saya lakukan untuk menyikapi siklus otomatis pikiran dan perasaan ini? Apa saya harus melawannya atau mempertahankannya? Apa saya harus larut di dalamnya atau mengalihkan diri darinya?”

Sadari saja siklus pikiran dan perasaan yang muncul. Jadi kita seperti punya jangkar agar tidak terseret hanyut di dalam siklus itu. Kita membentuk semacam ruang kesadaran diri.

Agar kita pun sadar bahwa pikiran dan perasaan itu punya tariannya sendiri. Bukan mengendalikan pikiran & perasaan agar tidak mengganggu kita, tapi sebaliknya kita perlu berlatih mengurangi menganggu pikiran & perasaan.

Dengan menjadi pengamat yang netral, kita bisa keluar dari siklus otomatis itu. Sehingga reaksi kita tidak terlalu terbawa pikiran dan perasaan. Sederhananya, kita jadi enggak gampang baper.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

4