Terbuai Ekspektasi Tinggi Dalam Relasi

Saya tahu tentang bagaimana semestinya menjalani hidup ini sebatas dari segala yang saya pelajari sejak saya kecil. Salah satunya, dalam menjalani hidup ini saya harus punya ekspektasi. Termasuk ekspektasi dalam relasi, soal seseorang mesti bersikap sesuai dengan keinginan saya. Dalam bayangan saya,  kalau dia bersikap sesuai ekspektasi saya, maka saya akan bahagia.

Tetapi hingga saat ini, terbuai ekspektasi tinggi itu malah lebih banyak bikin saya menderita. Kalau pun ekpektasi itu terwujud, yang saya dapatkan bukanlah bahagia, namun hanyalah gembira beberapa waktu lalu lenyap kembali hampa.

Oleh karena itu, saya terus berlatih untuk mengurangi ekspektasi bahwa dia harus begini dan begitu sebagai syarat untuk bahagia. Karena yang saya tahu, kalau saya berekspektasi berarti saya terjerat oleh pikiran saya sendiri, misal: Yang terjadi harus sesuai dengan yang saya inginkan, dia harus memahami saya, dan sebagainya.

Padahal pikiran-pikiran itu hanyalah ilusi, pemikiran, konsep, tidak nyata. Kalau dia memahami saya, iya mungkin di permukaan batin membuat saya gembira, tapi ternyata di kedalaman batin, tak begitu mempengaruhi soal bahagia atau tidaknya saya.

Dia memahami saya, lalu gimana? Apa yang berubah? Di kedalaman batin, tidak ada yang berubah.

Begitu pula sebaliknya, dia tidak memahami saya, lalu gimana? Apa yang berubah? Di kedalaman batin, tidak ada yang berubah.

Sebelumnya, saya berpikir saya butuh ekspektasi terwujud agar saya bahagia. Tapi di saat ini, kalau saya sadar penuh hadir utuh di sini-kini, ternyata saya tidak butuh ekspektasi terwujud agar saya bahagia.

Lalu dengan dia menyadari pola interaksi yang tidak seperti biasanya, untuk pertama kalinya mungkin dia akan membenahi diri dan bersikap baik kepada saya. Kalau tidak pun, ya tidak jadi masalah. Kembali lagi ke:

Apapun sikap dia, di kedalaman batin, tidak akan mempengaruhi bahagia atau tidaknya saya.”

Akhirnya saya menyadari, kesadaran penuh kehadiran utuh di sini-kini akan diikuti penerimaan seapaadanya kenyataan, penerimaan seapaadanya seseorang. Akan diikuti welas asih yang akan memberinya ruang untuk menjadi dirinya seapaadanya dia. Akan diikuti kelapangan hati yang mampu melonggarkan jeratan ekspektasi bahwa dia harus begini dan begitu.

Mungkin dari titik tolak inilah, saya akan menemukan kembali kebahagiaan yang selama ini saya cari-cari. Kebahagiaan yang tak terbatas. Kebahagiaan yang bukan sebatas kegembiraan.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

13