Tentang Patah, Hati, dan Sembuh

Suatu hari, saya bertanya ke Indri, “Apakah patah hatiku karena berbagai peristiwa yang aku alami selama ini, bakal sembuh?”. Saya dan Indri pacaran selama 10 tahun, dan usia pernikahan kami sudah 8 tahun. Sehingga kami sudah cukup saling tau apa saja kejadian di masa lalu yang bikin masing-masing hati kami patah. Dari kehilangan sampai kegagalan. Dari penolakan sampai penyesalan.

Indri tak menjawab sepatah kata pun. Namun ia memeluk sambil menatap mata saya dalam-dalam. Seketika membuat saya menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan itu,

“Aku tau. Aku tau aku bakal sembuh. Aku tangguh. Seperti ketika aku sakit batuk, agar sembuh aku tidak bisa meminta orang lain untuk mewakiliku minum obat. Agar patah hatiku sembuh pun aku perlu melakukan upaya pemulihannya sendiri.”

Demikianlah, dengan menjawab tanpa kata, hanya dengan pelukan, tatapan mata, dan kehadiran diri sepenuhnya, dengan cara itu ia menemani saya untuk memulihkan patah hati. Saya yang kadang terlalu tak sabar dan bergelisah. Saya yang tak peduli dan keras kepala.

Ini tulisan untuk kamu yang bertanya, “Apakah patah hatiku bakal sembuh?”. Saya akan jawab: “Iya, kamu akan sembuh.” Seorang teman dalam proses pemulihan batin berkata, “Di awal perjalanan, aku kira patah hati membuatku terperosok ke dasar jurang paling dalam. Sehingga satu-satunya jalan yang bisa aku pilih adalah ke atas. Naik kelas.

Tapi setelah melanjutkan perjalanan lebih mendalam, ternyata sebenarnya-benarnya patah hatiku ini membuatku sadar bahwa aku sudah terlalu jauh meninggalkan pergi diriku sendiri. Sehingga satu-satunya jalan yang sebaiknya aku tempuh adalah pulang. Pulang ke hatiku sendiri.”

Teman lain yang juga dalam proses pemulihan batin berkata, “Aku sadar aku mampu untuk baik-baik aja, baik sendirian maupun punya pasangan. Aku punya hak sepenuhnya untuk memilih bahagia dan menjadi diriku seutuhnya. Tak ada lagi yang kurang.”

Dan rasanya, kesimpulan ini benar-benar terasa maknanya: Saya percaya kamu akan sembuh dari patah hatimu. Tuhan telah membekalimu obat di dalam dirimu sehingga kamu bisa menyembuhkannya. Meski mungkin kamu tak menyadarinya, kamu sebenarnya sudah pulih. Hanya saja batinmu yang tidak tenanglah yang membuatmu tidak mampu menyadarinya.

Teringat pesan begitu indah dari Rumi, penyair Sufi: “Tugas kita bukanlah mencari cinta. Tapi sekadar mencari dan menemukan sesuatu di dalam diri, yang kita bangun sendiri, sehingga cinta itu pun terhalang.”

Yang menghalangi sehingga patah hati kita tak kunjung sembuh adalah ketidaktenangan batin yang kita ciptakan sendiri.

Posted on August 1st, 2019