Sudah Tau Banyak Ilmu, Tapi Hidup kok Enggak Kunjung Membaik?

Ketika seseorang ngobrol sama temannya tentang gimana caranya masak:

“Aku udah tau kumpulan resep yang enak, aku juga udah tau gimana caranya masak. Kira-kira masakanku bakal enak gak ya?”

Tanya temennya, “Kamu pernah nyoba masak?”

Jawabnya, “Belum pernah.”

Setelah obrolan itu, dia pun belajar bahwa sebanyak apapun yang dia tau soal resep & masak, kalau cuma tau, gak dilatih gak dilakukan gak dirasakan, ya enggak akan tau masakannya enak atau gak.

Kadang, tentang belajar ilmu, kita hanya ada di “dimensi tau”, tidak berlanjut ke dimensi melakukan yang kita tau (dimensi laku).

Sehingga memang tidak bisa dipungkiri, kita tidak merasakan manfaat mendalam dari ilmu itu (dimensi rasa). Bahkan malah bisa terjebak dalam kebingungan.

Kadang juga, kita mendapat ilmu dari seseorang, misal soal memaafkan, mengikhlaskan, dsb, lalu kita meremehkannya, “Itu sih aku udah tau” atau “Klise. Banyak orang udah tau.”

Padahal bisa jadi kita emang udah tau, tapi belum jadi laku, belum jadi rasa.

Ada ilmu-ilmu memulihkan & merawat batin yang memang perlu kita pelajari berulang kali. Bukan untuk kita remehkan.

Tapi agar kita bergerak dari “dimensi tau” ke “dimensi laku & rasa”.

Ketika berada di “dimensi tau”, kita cenderung memegang erat apa yang kita ketahui. Yang berbeda dengan kita pasti salah. Akibatnya berdebat.

Tapi ketika udah di “dimensi laku & rasa”, kita perlahan melepaskan genggaman merasa tau itu. Yang berbeda dengan kita belum tentu salah. Akibatnya cenderung menghindari debat.

Teringat filosofi Jawa: “Ngelmu iku kelakone kanthi laku”.

Kurang lebih artinya: Kita tidak bisa mengusai ilmu itu seutuhnya, tidak bisa merasakan manfaat mendalamnya, kalau kita tidak melakukan ilmu itu.

Seenak apapun resep masakan yang kita tau, kalau cuma tau, tentu saja kita enggak bisa merasakan enaknya kan?

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

4