Sering Menghakimi dan Tidak Disadari

Pengalaman kita dihakimi (kita di posisi korban penghakiman), lebih sering kita ingat daripada pengalaman kita menghakimi (kita di posisi pelaku). Untuk menyadari bahwa kita menghakimi, biasanya perlu upaya lebih.

Menghakimi adalah sesuatu yang sering kita lakukan, dan seringkali tidak kita sadari. Dalam sekejap, misal kita membentuk asumsi tentang seseorang yang baru saja kita temui untuk pertama kali. Kita hanya butuh waktu sebentar untuk menganggap orang yang kita lihat fotonya di linimasa media sosial sebagai orang sukses. Atau untuk memberi label suatu perasaan yang sedang kita alami sebagai perasaan negatif.

Apakah kenyataan yang terjadi sebenarnya sama dengan penghakiman kita?

Kita pikir penghakiman kita itu sepenuhnya benar. Barangkali tanpa kita sadari, adakalanya kita terjebak merasa paling benar.

Kita terlalu sombong menganggap penghakiman kita itu menggambarkan kenyataan seutuhnya. Padahal penghakiman itu seperti kita memakai kacamata berwarna. Kita jadi melihat kenyataan melalui kacamata penghakiman. Penghakiman berakar dari berbagai hal yang kita percaya padahal belum tentu benar.

Ketika kita menghakimi, seringkali lebih menggambarkan diri kita yang menghakimi dibandingkan menggambarkan orang yang kita hakimi. Setepat apapun kelihatannya penghakiman kita, penghakiman tetap saja merupakan cerminan dari berbagai hal yang kita percaya, yang kita genggam di dalam diri kita.

Dengan memahami ini, kita akan lebih menyadari akan penghakiman. Bukan hanya ketika kita dihakimi, tapi juga ketika kita menghakimi.

Karena kita punya standar tertentu yang kita percaya di dalam diri kita, sehingga kita menghakimi orang lain begini dan begitu. Dan seringkali standar itu pula yang kita gunakan untuk menghakimi diri kita sendiri.

“Kacamata penghakiman yang kita gunakan untuk menghakimi dunia di luar diri kita, seringkali juga kita gunakan untuk menghakimi diri kita sendiri.”

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

12