Seni untuk Berinteraksi dengan Orang yang Dibenci

Saat saya mau tidak mau, suka tidak suka, mesti bertemu dengan orang yang saya benci, saya berlatih untuk sadar diri di sini-kini.

Bukan berarti saya tidak ingat lagi apa yang sebelumnya terjadi. Dan bukan berarti pula saya berusaha melupakannya. Sebatas yang saya tahu, sengaja melupakan itu tidak akan bisa. Malah bisa-bisa semakin ingat. Jadi saya lebih memilih berlatih menyadari ingatan-ingatan yang muncul hanya sebagai ingatan. Sehingga tidak mudah terseret arus memori itu lagi, lagi, dan lagi dalam interaksi yang terjadi. Salah satu jangkarnya agar saya berada di sini-kini adalah menyadari tarikan dan embusan napas.

Saat dia berkata dan bersikap tertentu, maka pikiran saya akan begitu gesit menerjemahkannya sebagai pola lama yang mesti saya tanggapi dengan reaksi yang juga sudah menjadi pola lama di diri saya. Seperti biasanya dia begini, maka saya pun juga seperti biasanya mesti begitu. Terpenjara dalam pola lama. Saya menganggap dirinya hanya sebagai tumpukan masa lalu. Bukan sebagai manusia seapaadanya yang berada di sini-kini.

Agar tidak terbakar sendiri dengan rasa benci, saya berlatih untuk sadar diri di sini-kini. Sehingga saya menanggapinya tidak secara reaktif. Saya menyadari ada pilihan lain yang bisa saya ambil sebagai respon.

Saat saya keluar dari pola lama, maka dia mungkin akan kebingungan. Karena saya tak lagi seperti biasanya. Tak lagi mengikuti permainan seperti kebiasaan selama ini. Dan egonya pun merasa ada yang aneh. Ada yang hilang. Padahal permainan ini tentu saja perlu keterlibatan dua belah pihak. Dia jadi kesulitan melanjutkan permainan yang selama ini dikenal. Karena saya tak lagi ikut memainkannya, tak lagi reaktif seperti sebelum-sebelumnya.

Barangkali dengan begitu saya pun terbebas dari penjara pikiran saya sendiri. Tak lagi memberi makan ego saya sendiri. Hanya saja sampai sekarang ini, saya masih gagal berulang kali.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

16

Berikutnya:
»