Edukasi Seks dan Kematian

Sebatas yang saya tahu, karena dulu orang tua saya melakukan hubungan seks maka saya lahir di kehidupan ini. Dan karenanya, kelak saya akan mati. Tubuh ini membuat saya tidak mungkin bisa hidup selamanya. Tidak akan bisa saya selalu menghindar dari kematian.

Sebatas pengalaman saya hidup selama ini, obrolan soal seks dan kematian itu dianggap tabu. Seolah tidak boleh membicarakannya sebebas bicara soal keributan di social media.

Seiring berjalannya waktu, saya perlahan membuka diri untuk belajar soal seks dan kematian. Mengendurkan anggapan tabu itu. Yang dulunya tanpa sadar saya menganggap seks itu selalu jorok, kotor, cabul, ternyata tidak selalu begitu. Begitu pun yang dulunya tanpa sadar saya menganggap kematian itu selalu sangat menakutkan dan mengerikan, ternyata belum tentu juga sama persis seperti anggapan saya.

Hidup ini terjadi di antara seks dan kematian. Seperti pintu depan dan pintu belakang. Maka dengan belajar soal seks dan kematian, barangkali saya akan lebih mampu menyelami hidup ini lebih dalam. Dengan memahaminya, bisa jadi saya akan mulai menyadari diri sejati. Keheningan. Kebahagiaan yang berbeda dengan yang selama ini saya kira.

Satu pelajaran yang saya masih sering lupa: “Karena dulu orang tua saya melakukan hubungan seks, maka bukan saya yang lahir, tapi tubuh saya yang lahir. Kelak di saat saya mati, maka bukan saya yang mati, tapi tubuh saya yang mati.”

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

6