Sakit Hati Karena Omongan Seseorang (2)

Setauku, aku pernah bahkan sering gagap emosi (gapem). Gapem? Gimana itu?

Aku pernah ngalami kejadian yang melukai batinku. Dari patah hati, gagal, kehilangan, ditolak, diremehkan, dsb. Aku menderita karenanya. Dan aku kewalahan sendiri, gagap menghadapi emosi-emosi yang muncul.

Ketika gapem, aku menderita. Dan sadar atau tidak aku menyakiti hati orang lain, membuat orang lain juga menderita, melalui perkataan atau perbuatanku. Dan bisa saja orang yang kusakiti adalah orang yang kucintai. Lalu aku pun berusaha meminta maaf kepadanya. Dan aku berharap dimaafkan.

Di sisi lain, ketika omongan seseorang menyakiti hatiku, aku pun perlu belajar untuk menyadari, melihat derita & luka batinnya. Menyadari mungkin dia juga gagap emosi seperti diriku. Mungkin dia enggak benar-benar ingin menyakitiku. Dia hanya kewalahan dengan gejolak emosi & luka batinnya sendiri.

Dengan kesadaran seperti ini, aku belajar tak bergegas marah kepadanya. Bahkan lebih bisa memaafkannya. Meski buatku, persoalan memaafkan seringkali enggak mudah. Iya, aku jadi korban gagap emosinya. Dia membuatku menderita karena omongannya. Tapi ternyata yang terutama jadi korban dan paling menderita adalah dirinya sendiri.

Dengan melihat lebih dalam dibalik omongannya yang menyakitkan ada luka batin & penderitaan yang dia alami… Dengan menyadari dia adalah korban dari luka batin & deritanya sendiri… Setidaknya membuatku belajar untuk tidak membalasnya, tidak mengatakan atau melakukan seperti yang ia katakan atau lakukan.

Hanya dengan menyadari derita yang dia alami, aku bisa belajar bersikap welas asih kepadanya. Tanpa menyadari itu, bisa-bisa aku malah membalasnya, menyuburkan derita, menambah jumlah orang-orang yang serupa. Jaga jarak dengannya atau pun tidak, yang terpenting aku belajar untuk memafkan dan tidak membalasnya.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

14