Sadarkah Kita Soal “Toxic Success”?

“Toxic relationship”, kita udah tau. Kalau “Toxic Success”? Sadarkah kita bahwa mengejar sukses & jadi orang sukses itu beresiko terpeleset di kondisi yang enggak baik buat kesehatan mental kita?

Insight 1. Saya tau istilah “Toxic Success” dari judul buku berjudul “Toxic Success”. Penulisnya Paul Pearsall, PhD meneliti 100 orang sukses, jabatannya tinggi, punya banyak uang, di berbagai bidang. Selama 10 tahun. Hasilnya? 90% mengalami yang disebut Toxic Success.

Insight 2. Toxic success enggak cuma dialami oleh orang-orang yang udah sukses, jabatan kerja udah tinggi, udah punya banyak uang lho. Tapi juga bisa dialami oleh orang-orang yang sedang dalam proses meraih sukses, punya jabatan tinggi, berusaha mendapatkan uang lebih banyak.

Insight 3. Dari penelitian, 90% orang sukses mengalami toxic success dengan kondisi:

  • sering cemas, sulit tenang
  • sulit mengelola perhatian
  • selalu ingin lebih, enggak mampu merasa cukup
  • jarang fully present, enggak sepenuhnya hadir di saat ini
  • enggak ada kedekatan relasi dengan org lain

Insight 4. Yang 10% mengalami yang disebut sweet success dengan kondisi sebaliknya:

  • jarang cemas, lebih tenang
  • mampu mengelola perhatian
  • berani merasa cukup
  • bisa lebih hadir sepenuhnya di saat ini, fully present
  • punya kedekatan relasi dengan org lain, terutama keluarga

Insight 5. Toxic success cenderung mengukur kesuksesan dari yang tampak. Rumah megah, mobil mewah, pakaian mahal, pujian tepuk tangan. Sweet success lebih memperhatikan soal batin yang tenang, hati yang damai, mental yang sehat.

Insight 6. Toxic success landasannya lebih ke berjuang tanpa lelah ngejar sukses. Meraih lebih banyak lagi, menggapai lebih tinggi lagi. Sweet success landasannya lebih ke penerimaan keadaan seapaadanya. Ada keberanian untuk merasa udah cukup.

Insight 7. Banyak orang pingin sukses, tapi yang mengejar sukses & bahkan yang udah sukses, enggak semuanya merasakan damai. Diri kita, baik tubuh, pikiran & perasaan, sebenarnya memberi kode ketika hidup kita udah mengarah ke kondisi yang enggak damai. Sayangnya kita sering mengabaikan kode itu.

Kodenya bisa berupa seperti kondisi 90% orang yang mengalami toxic success, yang udah tertulis di insight 3. Kode lebih mendalam bisa berupa kondisi atau sakit fisik.

Jadi sebelum mengejar sukses atau sudah di dalam proses mengejar sukses, kita perlu rajin berlatih peka terhadap kode ini. Membaca diri sendiri. Sadar diri.

Kalau sudah menyadari kodenya, kembali ke diri kita masing-masing. Mau terus ngegas atau ngerem. Apapun pilihan kita, yang lebih penting kita mau menerima apapun akibat dari pilihan kita. Karena yang sering terjadi, setelah menerima akibatnya, barulah kita kebingungan.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

14