Relasi itu Cermin

Seorang teman mengirimi saya pesan. Dia meminta pendapat soal relasinya. Teman saya meminta pendapat karena dia tau saya juga kenal dengan orang yang dia maksud.

Di tengah obrolan yang cukup panjang, saya bilang:

“Dalam relasi dengan siapapun, entah itu dengan orang tua, pasangan, anak, teman… kita jadi bisa lebih mengenal diri sendiri.”

Kita bisa mengenal diri sendiri dengan belajar secara teori tentang konsep diri dan melalui bermacam-macam metode.

Kita juga bisa mengenal diri sendiri dengan menepi, menyepi, menyendiri. Menjaga jarak dengan keramaian. Ini yang juga sering jadi alasan orang enggan menjalin hubungan dulu. “Aku mau mengenal diriku sendiri dulu, jadi enggak bisa menjalin hubungan cinta denganmu.”

Tapi kita bisa mengenal diri sendiri lebih dalam melalui relasi.

Ya, dalam relasi seringkali kita sibuk mengawasi pasangan kita. Ooo dia orangnya begini, dia orangnya begitu. Padahal dalam relasi… bagaimana kondisi batin kita, bagaimana sikap kita, bagaimana perilaku kita adalah pemandu untuk mengenal diri kita sendiri.

Setiap sesuatu terjadi, entah kondisi relasi baik-baik saja atau baru menyebalkan… lihat juga diri sendiri. Ooo ternyata aku cemburuan banget ya. Ooo ternyata aku sangat haus perhatian. Ooo ternyata aku orangnya clingy. Ooo ternyata aku suka membantu. Dan sebagainya.

Kalau kita mau menengok ke diri sendiri… Apapun yang terjadi dalam relasi bisa jadi cermin untuk melihat diri kita sendiri. “Sebenarnya aku ini orang yang kayak gimana ya.”

Jadi, relasi itu cermin. Cermin yang akan menunjukkan apa yang kita suka dan enggak suka. Menunjukkan pola keterkondisian atau program pikiran dan perasaan kita, yang membelenggu kita. Menunjukkan seberapa kesepian dan ketakutannya diri kita. Menunjukkan kemelekatan-kemelekatan (attachments) kita.

Relasi jadi sumber penderitaan kalau kita tidak menggunakan relasi sebagai cermin untuk mengenal diri sendiri. Kalau kita terus lari bersembunyi daripada melihat cermin itu. Kalau dalam relasi kita hanya sibuk mengawasi pasangan, tapi abai mengawasi diri.

Ada saatnya relasi itu mengenal orang lain. Tapi lebih sering, relasi itu cermin untuk mengenal diri sendiri.