Sebuah Pertentangan yang Tidak Bisa Diterima oleh Akal Saya

Hidup ini selalu dihiasi berbagai bentuk penjara penderitaan. Sebagian besar karena manusia cenderung terjebak dalam pola pikirnya yang kaku.

Ditambah sekarang ini, sepertinya gaya hidup modern cenderung menggiring manusia menjadi makhluk-makhluk yang berlebihan egois. Semakin merasa dirinya di posisi yang butuh bantuan, maka semakin memikirkan dirinya sendiri, dan semakin buta mata hatinya untuk membantu orang lain.

Jadi teringat pengalaman masa lalu. Kalau saya baru enggak punya uang, tentu saja tak pernah sedikit pun terlintas di pikiran saya untuk membantu orang lain yang juga baru enggak punya uang. Apalagi menjadikannya sebagai jalan keluar dari permasalahan keuangan saya. Baru mengalami masalah, jalan keluarnya bukanlah membantu orang lain yang juga sedang kena masalah. Masuk akal kan? Iya, masuk akal. Tapi adakalanya hidup ini tak sesempit akal manusia.

Yang terjadi bisa saja kurang lebih seperti ini:

“Seseorang punya masalah. Lalu ia membantu orang lain yang juga tersandung masalah. Selang beberapa waktu, ia menemukan jalan keluar dari masalahnya.”

Atau saya juga pernah mendengar cerita nyata:

Orang enggak punya uang, hidup dalam keterbatasan. Tapi punya hati yang begitu besar. Ia meminjamkan sebagian uang yang dipunya. Secara akal saya, jelas-jelas itu bertentangan. Tapi ternyata saya baru tau bahwa semakin orang sadar diri, maka semakin memahami memang begitulah cara keluar dari situasi yang menghimpit. Apakah lalu dengan begitu ia pasti akan mendapatkan uang? Tak selalu. Tapi setidaknya, ia akan mendapatkan hadiah berupa rasa berkecukupan. Kelegaan menerima kenyataan hidup seapaadanya. Dan inilah kunci keluar dari penjara penderitaan.

Begitu pula yang terjadi ketika orang sakit tapi malah membantu orang lain untuk sembuh dari sakitnya. Orang yang pingin punya pasangan tapi malah membantu mencarikan orang lain untuk mendapatkan pasangan. Orang yang hidupnya sedang kesepian tapi malah membantu orang lain untuk tidak kesepian. Mungkin mereka ini di mata masyarakat sering dianggap sebagai orang-orang yang akalnya bodoh. Tapi bisa jadi entah disadari atau tidak, mereka ini sebenarnya adalah orang-orang yang jiwanya lebih dewasa.

Hanya saja sayangnya yang seringkali terjadi di dalam persoalan patah hati adalah: Ketika merasa patah hati kita belum sembuh, kita enggan membantu orang lain untuk memulihkan patah hatinya. Dan lupa bahwa

sesungguhnya dengan membantu orang lain untuk pulih, maka perlahan kita sendiri pun akan memulih.

Posted on November 4th, 2019