Pertanyaan yang Tidak Perlu Dicari Jawabannya

Waktu kecil, banyak hal yang bikin aku bertanya. Beberapa di antaranya: Kok bisa ada pelangi? Kalau makan biji jeruk, apa di kepala bakal tumbuh pohon jeruk?

Pikiran penuh tanya, haus jawaban. Orang di sekitar ada yang risih. Tapi sebagian memberi label itu tanda anak pintar.

Tambah usia, karena belajar, aku jadi pintar menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan itu. Namun tambah usia juga tambah tanya di kepala: Kapan nikah? Kok belum punya anak? Kenapa patah hati lagi? Apa dosaku kok aku mengalami ini? Dan masih banyak lagi tanya serupa.

Ternyata hal ini berbeda dengan semasa aku kecil…

Aku jadi tau, adakalanya pikiran perlu penuh tanya & haus jawaban. Tapi adakalanya juga pikiran punya batas untuk menjangkau samudera hidup yang sangat luas. Untuk itu, aku perlu belajar sadari aja ketika tanya itu muncul di kepala, lalu tak perlu berusaha mencari jawabannya.

Lebih mendalam lagi, belajar kurangi mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tanpa sadar membuatku merasa pintar & bergaya jadi orang yang berpikir kritis. Padahal bisa jadi pertanyaan itu hanya akan menambah rumit hidup yang udah rumit & akan melukai diri sendiri.

Ketika pikiranku penuh tanya & haus jawaban, aku jadi selalu gelisah.

Ketika aku mampu nyaman walau tak tau jawaban, aku berada dalam keadaan damai & bahagia. Enggak serakah mendapatkan yang kuinginkan. Enggak membenci menendang yang tak kuinginkan.

Kalau pikiranku masih penuh tanya & haus jawaban, menjawab pertanyaan dengan keheningan itu sangatlah tak masuk di akal.

Tapi di saat belajar meditasi, aku mulai belajar, bukan biar jadi pintar menemukan jawaban seperti semasa aku kecil. Tapi agar tetap nyaman walau tak tau jawaban.

Kalau aku masih merasa risih dengan pertanyaan serupa dari orang lain, artinya aku masih belum nyaman dengan pertanyaan dari pikiranku sendiri.

Semakin aku nyaman dengan tanya di kepala sendiri, semakin aku tidak risih dengan tanya dari orang lain.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

8