Perselingkuhan dan Perasaan

Mendapatkan kepercayaan dari pasangan itu butuh perjuangan yang tidak mudah, tapi mengkhianatinya mudah. Dan cara yang begitu melukai untuk kehilangan kepercayaan adalah selingkuh. Mungkin, semua orang tahu kalau selingkuh itu membuat masalah dalam suatu hubungan jadi kian rumit. Walau begitu, masih saja ada orang yang membenarkan selingkuhnya dengan alasan bahwa selingkuhannya itu adalah yang sebenar-benarnya belahan jiwanya atau jodohnya.

Di sini, mungkin mereka perlu nasihat yang lain: Bukankah dulu kamu juga merasa orang yang kamu khianati itu adalah yang sebenar-benarnya jodohmu?

Menjalin hubungan cinta merupakan proses untuk berlatih mengecilkan ego. Dalam pengertian memiliki pengendalian diri untuk tidak selalu memuaskan keinginan demi enaknya sendiri.

Jalinan cinta selalu merupakan sebuah proses dan pembelajaran untuk tidak menjadi budak perasaan. Di sana, bisa dikatakan semua orang pernah jatuh cinta kepada orang selain pasangannya. Suka, tertarik atau menaksir. Saya bohong kepada diri sendiri kalau saya bilang belum pernah begitu. Memang benar perasaan datang begitu saja, tidak bisa dikendalikan. Namun, tidak seperti binatang yang bertindak reaktif mengikuti perasaannya begitu saja. Manusia selalu punya pilihan tindakan atas perasaan yang datang mengunjunginya. Perasaan jatuh cinta tidak bisa dikendalikan, tapi tindakan yang mengikuti perasaan itu sepenuhnya bisa dikendalikan.

Jalinan cinta juga selalu merupakan perayaan akan ketidaktahuanmu perihal apakah dia benar-benar jodohmu atau bukan. Jodoh merupakan hasil dari kesabaran untuk saling menerima, saling mengalah, dan saling memaafkan. Tidak ada yang pernah benar-benar tahu apakah seseorang jodohnya atau bukan. Nah kalau kamu membenarkan perselingkuhanmu dengan beralasan dia itu sebenar-benarnya jodohmu, apalagi ditambahi bumbu-bumu cerita drama bahwa di kehidupan lampau (past life), kamu dan dia punya hubungan dekat… berarti kamu sok tahu, kamu halu.

Posted on July 5th, 2019