Perlombaan Rebutan Perhatian

Sejak kecil saya diajari untuk memperhatikan. Salah satunya memperhatikan guru di kelas, agar paham pelajaran yang diberikan dan nilai ujian bisa dibanggakan.

Beberapa tahun terakhir ini, pemahaman saya tentang perhatian berubah. Sebatas yang saya rasakan, dari momen ke momen saya dikepung oleh banyak hal yang mesti saya kerjakan. Mulai dari telepon berdering, desakan untuk membalas pesan, serbuan notifikasi dan seolah banyak orang meminta saya untuk melakukan ini dan itu, sampai mendorong saya untuk mengikuti berbagai acara yang katanya kalau saya tidak mengikutinya, seumur hidup saya akan menyesalinya.

Saya jadi kehilangan diri sendiri di tengah semakin riuhnya perlombaan rebutan perhatian. Gambarannya seperti ada 8 tali diikat di tubuh saya, dan saya ditarik. Tali-tali itu berusaha menyeret saya ke 8 arah yang berbeda. Masing-masing tali berteriak meminta atau bahkan memaksa agar mendapatkan perhatian dari saya. Setiap pihak berteriak: “Perhatikan ini, karena ini sangatlah penting. Karena ini sungguhlah serius. Kita harus melakukannya sekarang. Harus take action sekarang. Dilarang menunda.”

Saya jadi serba cemas dan tidak ada waktu walau sejenak untuk tenang. Sehingga sampai berdampak ke kualitas pilihan perkataan dan perbuatan yang saya ambil di setiap momennya. Saya kekurangan waktu untuk jeda, kehilangan ruang untuk hening. Yang berarti juga saya jadi kehilangan kebijaksanaan. Karena didasari oleh kondisi batin saya yang tidak seimbang, barangkali tanpa sadar apa yang saya pilih lakukan ternyata malah mengundang lebih banyak penderitaan.

Perlombaan rebutan perhatian ini membuat saya sering berada di kondisi yang dipenuhi rasa takut. Karena saya jadi sering hanya berpikir soal hal-hal buruk yang bakal terjadi, soal sisi kurang yang mesti ditambahi, atau sisi berlebihan yang mesti dikurangi, soal segala sesuatu yang salah dan harus dibenahi, soal menambah dan mendapatkan keuntungan, sehingga bisa sukses luar biasa dahsyat menggelegar…

Hingga saya terhenti lalu merenung: Sebenarnya buat apa sukses? Ironisnya, saya pun tidak tahu sukses itu buat apa…

Seiring berjalannya waktu, seolah saya mendapatkan jawabannya. Sukses itu supaya saya bertumbuh. Dengan bertumbuh, maka saya bisa mengajak orang lain untuk sukses juga. Menjadi bagian dari kesuksesan tersebut.

Lalu saya pun terhenti dan merenung lagi: Itu semua buat apa? Kembali ironis, jangan-jangan itu semua hanya supaya saya bertambah teman yang sama-sama terjebak dalam hidup yang tidak bahagia…

Barangkali banyak orang sekarang ini yang mengalami kondisi seperti yang saya alami. Tersusun atas kelelahan perhatian (attention fatigue), serba cemas dan begitu banyak rasa takut. Saat ini, saya menyadari hal yang sangat saya butuhkan tapi seringkali saya kehilangannya adalah waktu untuk jeda dan ruang untuk hening. Saat ini, saya memilih untuk belajar dengan sadar secara berkala untuk mengambil jeda dan masuk dalam keheningan. Melepaskan diri dari tali-tali yang menyeret perhatian.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

8