Pasangan yang Sempurna

Suatu hari jauh sebelum saya menikah, pernah ngomong ke seorang sahabat,

“Aku putus lagi e, su… Soalnya dia orangnya enggak romantis sama sekali.” Su itu bukan nama sahabat saya, tapi singkatan dari: Asu (anjing), panggilan akrab antar teman.

Terus sahabat saya yang dalam lingkaran pertemanan kami ini dijuluki si bodoh, menjawab,

“Lhoh lha apa kamu ini sebenarnya nyari yang sempurna apa gimana to, su? Enggak sempurna, putus. Agak sempurna, putus. Kurang sempurna, putus. Besok-besok pas dapet yang sempurna, dianya yang enggak mau sama kamu, soalnya kamu enggak sempurna.”

Saya tertunduk merenung, dalam hati berkata, “Tumben. Bener juga ya kata-kata yang keluar dari mulutnya.”

Sibuk mencari pasangan yang sempurna sampai lupa tidak ada orang yang sempurna.

Berlebihan memaksa diri ingin jadi orang yang sempurna tanpa cela, tiada kelemahan, sampai lalai tiap orang selalu tersusun atas sisi malaikat dan sisi penjahat, sisi kebijaksanaan dan sisi bajingan.

Terlalu fokus mengendalikan hidup ini agar selalu sempurna sesuai harapan sampai menutup mata yang tak sesuai harapan pun adalah berkah dariNya.

Enggak pa-pa lah ya, yang ini udah terlanjur putus tu, mau gimana lagi. Asal selanjutnya benar-benar sadar diri:

Sebenar-benarnya cinta bukanlah soal sempurna, tapi perihal merangkul apa-apa yang tidak sempurna.

Sepakat?

Posted on July 22nd, 2019