Pandemi, Rasa Bosan & Tidak Ada Liburan

Sejak kecil aku diajari untuk melarikan diri dari perasaan yang enggak nyaman. Misal ketika sedih nangis, aku diminta melihat balon. Atau diberi permen. Mungkin kalau sekarang, diminta nonton youtube. Bertambah usia, aku pun jadi terbiasa melarikan diri dari rasa bosan. Meniru lingkungan, yaitu salah satunya dengan liburan. Apalagi ada kesempatan buat memamerkannya sebagai standar semu kebahagiaan.

Ternyata kebiasaan itu membuatku jadi terpenjara pikiranku sendiri bahwa waktu kosong enggak ngapa-ngapain, apalagi bercampur rasa bosan, itu harus diisi dengan kegiatan & kesibukan. Sesederhana buka social media, mengintip hidup orang lain. Keinginan mengisi yang kosong ini juga membuatku tak jenak melihat sudut atau bagian kosong di rumah. Ingin sekali mengisinya dengan sesuatu. Pokoknya jangan kosong. Kosong itu jelek. Seiring waktu berjalan, aku belajar…

Satu pelajaran yang ngena banget:

“Enggak semua yang kosong harus diisi. Kosong mengandung keindahannya sendiri.” Membuatku merenung… Seperti murid meditasi, saat di awal belajar diberi kertas kosong. Ia merasa harus mengisinya dengan tulisan & coretan. Setelah makin belajar, ia menyadari tak perlu mengisi kertas kosong. Ada keindahan dalam kosong.

Begitu pun gelas, bermanfaat karena bagian kosongnya. Suatu ruang juga bermanfaat karena sisi kosongnya. Hidup yang terisi penuh dengan kegiatan & kesibukan, tak kan ada keindahannya. Perlu luangkan waktu untuk kosong. Maka biar beneran bahagia, aku belajar tak selalu mengisi waktu kosong. Termasuk tak selalu melarikan diri dari bosan. Thing menjadi thing karena no-thing-nessnya. The beautifully empty.

Meski berulang kali lupa, berulang kali pula aku ingatkan diriku sendiri: Rasa bosan, rasa kosong, perasaan enggak nyaman, enggak harus ditumpas dengan liburan. Enggak harus pula dialihkan dengan menikmati distraksi-distraksi. Perasaan enggak nyaman perlu ditemui. Disadari. Sehingga terurai dan tidak terakumulasi yang bisa beresiko meledak di kemudian hari.

Aku sejak belajar menyadari hal ini, apalagi di masa pandemi begini, aku terus ingat:

“Merasa bosan, merasa waktu kosong enggak ngapa-ngapain, merasa enggak nyaman. Ah, aku perlu belajar untuk menemuinya. Tidak lagi aku bergegas melarikan diri. Thing menjadi thing karena no-thing-nessnya. The beautifully empty.”

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

6