Orang Sukses & Bahagia Karena Memang Terlahir atau Berbakat Sukses & Bahagia

Tulisan ini hasil rangkuman sebatas apa yang saya pelajari, salah satunya dari buku The Art of Thinking Clearly – Rolf Dobelli. Saya tulis ulang sesederhana mungkin apa saja yang saya pahami. Saya jadi belajar lagi & semoga bermanfaat juga buat teman-teman.

Ternyata ini bisa dipelajari dari ilmu Psikologi Kognitif. Yuk belajar sehatkan mental dengan sadari pikiran.

Kita mulai dari, misal kita lihat para perenang & pingin punya bentuk tubuh yang bagus seperti perenang. Lalu pikiran kita disadari/tidak cenderung berasumsi: Kalau aku rajin renang, maka bentuk tubuhku akan bagus.

Padahal kenyataannya ada kemungkinan: Mereka jadi perenang karena bentuk tubuh mereka sudah bagus. Atau setidaknya mereka sudah berbakat punya bentuk tubuh yang bagus.

Jadi: Bukan hanya “jadi perenang maka bentuk tubuh mereka bagus”. Tapi berlaku juga: “bentuk tubuh mereka bagus sehingga mereka jadi perenang”.

Contoh lain: Kita lihat model, kulit wajahnya halus mengiklankan produk skincare & kita pingin punya kulit wajah halus seperti dia.

Lalu pikiran kita disadari/tidak, berasumsi: Kalau aku pake produk itu, maka kulit wajahku akan halus seperti dia.

Padahal kenyataannya: Dia itu terpilih jadi model skincare karena terlebih dulu kulit wajahnya udah halus.

Jadi: Bukan karena pake produk yang diiklankan itu maka kulit wajahnya jadi halus.

Tapi: kulit wajahnya halus sehingga dia jadi model mengiklankan skincare itu.

Kita ketipu pikiran kita sendiri: Yang mestinya sebagai sebab, pikiran anggap sebagai akibat. Kalau kita sadar akan hal ini, kita enggak bakal mudah terbujuk rayu oleh iklan.

Contoh lain lagi: Pikiran kita disadari/tidak, berasumsi: Orang jadi pintar karena kuliah di kampus hebat itu.

“Orang pintar” sebagai akibat.

Padahal kenyataannya: Orang masuk kampus itu karena dia emang orang pintar. Jadi yang masuk situ emang orang-orang yang udah pintar.

“Orang pintar” sebagai sebab.

Jadi: Bukan semata karena kuliah di kampus hebat itu maka dia jadi pintar. Tapi banyak faktor. Salah satunya: Seleksi masuk kampus itu yang ketat. Jadi dia emang orang pintar sehingga dia kuliah di kampus itu.

Nah gimana kalau persoalan sukses & bahagia?

Orang yg sukses & bahagia menulis buku, lalu bikin seminar. Pikirannya & pikiran kita, disadari/tidak, berasumsi: Orang jadi sukses & bahagia karena melakukan rahasia2 yang ditulis di buku & dibagikan di seminar.

“Orang sukses & bahagia” sebagai akibat.

Padahal kenyataannya: Orang yg sukses & bahagia itu juga ada pengaruh karena emang terlahir atau berbakat sukses & bahagia.

“Orang sukses & bahagia” sebagai sebab.

Kurang lebih seperti kata 2 ahli ilmu sosial, David Lykken & Auke Tellegen: “Berusaha untuk jadi lebih sukses & bahagia itu seperti berusaha untuk menambah tinggi badan.”

Jadi misal: Jatah sukses & bahagia seseorang itu di nilai 7. Sekarang nilainya 5. Ya bisa sih dengan berbagai upaya nilainya ditingkatkan jadi 7. Tapi gimana pun juga meski sengotot apapun, enggak akan bisa kalau nilainya ditingkatkan jadi 9.

Kesimpulan: Sadari tipuan pikiran yang suka menganggap sesuatu sebagai akibat, padahal sebenarnya sebagai sebab. Kalau sadar hal ini, kita jadi tidak tergesa bereaksi, tidak gampang percaya omongan orang. Kita lebih tenang. Sadari & terima jatah jalan cerita hidup kita masing-masing. Amor Fati.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

10