Obrolan Berdua Tentang “Jatuh” dan “Cinta”

“Menurutmu, apa itu jatuh cinta?” tanyamu di suatu senja. Tak seperti biasanya.

Aku merenung sejenak. “Sampai sekarang pun aku masih belajar untuk jatuh cinta kepadamu,” jawabku. Lugu.

Kamu memiringkan kepala, masih penuh tanda tanya.

“Aku teringat pesan seorang guru. Jika kita berbicara cinta, kata yang sering dikaitkan adalah “jatuh”, bukan “bangun”. Cinta tak sesempit hubungan asmara kedua manusia. Cinta itu seluas hidup ini dengan berbagai peristiwanya. Menjalani hidup dengan berbagai ketidakpastiannya, kita perlu jatuh… menjatuhkan diri dalam keikhlasan. Tiap melangkah, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang bakal terjadi setelahnya. Jadi, setiap mengambil pilihan sebenarnya adalah perihal keikhlasan.

Aku lanjut menjelaskan pelan-pelan.

“Begitu pula saat kita saling jatuh cinta. Bukanlah sebatas yang selama ini kita bisa pahami soal jatuh cinta. Jatuh cinta mengandung kepasrahan.

Kita saling jatuh cinta, berarti kita saling memasrahkan dan menyerahkan diri, untuk mengarungi perjalanan kehidupan di mana kita sama-sama tidak tau pasti apa yang bakal terjadi kemudian.”

Kamu mengangguk-angguk. “Jatuh… dan cinta…”

Aku berdiam diri sejenak, lalu berusaha menuangkan rasa.

“Namun buat orang yang begitu keras memperoleh dunia, hingga mengorbankan kewarasan jiwa, tentu berusaha mengendalikan dan memastikan segala sesuatunya. Sehingga urusan jatuh cinta untuknya bukanlah sesuatu yang nyaman.

Karena jatuh cinta adalah soal kepasrahan. Di sana, seringkali hadir ketidaknyamanan. Bukan lalu diatasi dengan kemarahan dan perselingkuhan. Tapi di sana ada ruang tempat belajar setahap demi setahap, agar kita menjadi sepasang manusia yang sadar bahwa di tengah ketidaknyamanan itulah cinta yang sejatinya bersemayam.”

Kita terdiam. Beberapa saat…

“Terima kasih ya udah jatuh cinta kepadaku,” ujarku.

“Terima kasih juga ya,” katamu memecah sunyi, “meski kita masih ada rasa takut untuk benar-benar jatuh.”

Mata kita berdua saling menatap, tanpa kata hanya hening yang menyelinap.

Semoga kita tak pernah lelah untuk jadi murid mata pelajaran terindah, yang acapkali mengoyak kenyamanan ego kita, yaitu mata pelajaran jatuh cinta.

Posted on October 31st, 2019