Nasihat dari Si Bodoh

“Apakah patah hati itu buruk? Apakah jatuh cinta itu baik? Kita tidak pernah benar-benar tahu,” kurang lebih begitulah ujar seorang teman yang dijuluki si bodoh (karena semasa sekolah dan kuliah, nilainya selalu jauh dibawah rata-rata), seminggu sebelum dia menikah dengan pujaan hatinya. “Kita perlu ingat dan paham betul akan hal itu,” pesannya.

Saya ingat nasihat itu disampaikan teman saya 9 tahun lalu, sebelum saya dan Indri menikah. Tak terasa, selama 9 tahun, nasihat itu begitu nempel di ingatan. Dalam berbagai kesempatan, saya sering teringat pesan itu. Meskipun, saya sebenarnya tak sepenuhnya mengerti apa maksud perkataan teman saya 9 tahun lalu. Bisa saja dia cuma nyeletuk, dan tidak ada satu pun makna yang terkandung di dalamnya.

“Bagaimana kalau ternyata kita tidak punya uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kita? Tak bisa kaya seperti teman-teman kita? Ditambah lagi, mengapa kita sudah menikah 8 tahun namun belum-belum juga diberi buah hati?” Tanya saya kepada Indri. Seperti suami-istri mana pun di dunia, kami juga punya masalah tersendiri yang mesti kami hadapi. Yang mungkin membuat kami penuh tanya, tetapi tak kunjung bisa kami temukan jawabannya.

Barangkali banyak orang beranggapan saya adalah orang yang tabah. Namun di hadapan Indri, saya memang lebih sering menjadi suami yang gemar bergelisah. Dibandingkan semua orang, hampir 10 tahun ini, Indri menghabiskan lebih banyak waktu bersama saya, sehingga Indri boleh saja percaya bahwa saya akan bisa menjaga dan melindunginya, namun tentu saja pada kenyataannya kadang Indri juga menangkap momen-momen saat saya murung, manja, dan menangis di pelukannya.

“Aku tak tahu jawabannya. Aku pun bingung, bercampur sedih,” jawab Indri seketika, “tetapi kalau aku juga larut di dalamnya, terus mikirin tentangnya, buat apa juga?” Saya menghela napas mendengar jawaban Indri.

“Sekarang, ketika kita ingin keluar dari keadaan yang tidak sesuai keinginan… Apakah yang tidak sesuai ingin ini pasti buruk? Kita tidak pernah benar-benar tahu. Dan saat kita berada di keadaan yang tidak sesuai keinginan, kita begitu ngotot untuk mendapatkan yang sesuai ingin… Apakah yang sesuai ingin yang bakal kita dapatkan itu pasti baik? Kita tidak pernah benar-benar tahu,” tambah Indri ini benar-benar membuat saya jauh lebih tenang dari sebelumnya.

Tak ada manusia yang benar-benar tahu, apakah jomblo sendirian itu pasti sepenuhnya menderita, dan apakah punya pasangan menikah itu pasti sepenuhnya bahagia. Apakah miskin enggak punya uang itu pasti sepenuhnya sulit, dan apakah kaya berlimpah harta itu pasti sepenuhnya hebat. Apakah belum atau enggak punya anak itu pasti sepenuhnya suram, dan apakah punya anak itu pasti sepenuhnya indah. Apakah sakit itu pasti sepenuhnya musibah, dan apakah sehat itu pasti sepenuhnya berkah. Apakah yang sudah meninggal itu pasti tertimpa malang, dan apakah yang masih hidup itu pasti lebih beruntung daripada yang sudah meninggal. Sekali lagi, baik buruk kita tidak pernah benar-benar tahu.

Tiba-tiba, saya teringat celetukan si bodoh dan merasa makna indah yang terkandung di dalamnya benar-benar mampu menguatkan hati siapa saja yang cemas:

Tidak perlu terlalu menendang penuh kebencian keadaan yang tidak sesuai keinginan. Tidak perlu terlalu serakah berupaya meraih keadaan yang sesuai keinginan.

Kita, manusia, tak akan pernah benar-benar tahu. Tak semuanya harus dipikirkan. Adakalanya kita perlu belajar untuk menjadi manusia yang bodoh.

… Dan, di hari itu kami mengerti nasihat dari si bodoh, namun berjiwa tua.

Posted on July 16th, 2019