Merasa Iri dengan Hidup Orang Lain?

Bagi saya, social media adalah sebuah kecanggihan di dunia teknologi yang memberikan banyak manfaat. Namun kalau tidak digunakan dengan bijak, bisa-bisa malah melahirkan juga banyak rasa iri. Maksudnya, memudahkan kita merasa iri dengan hidup orang lain. Saya pun mengakui sering mengalami ini. Setelah melihat hal-hal membahagiakan yang dipost orang lain di social medianya, muncullah rasa iri dan berharap hidup saya seperti itu juga. Sekejap diikuti pula dengan pikiran menghakimi diri sendiri bahwa hidup saya sekarang ini menyebalkan, sehingga bagaimana pun caranya saya harus keluar dari keadaan ini agar hidup saya jadi menyenangkan.

Seolah ini semangat yang indah untuk memperbaiki diri. Tapi kalau berlebihan dan tak berhati-hati, kebiasaan merasa iri ini malah bisa mengundang banyak masalah.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk memulihkan kebiasaan merasa iri ini?
Setiap kali merasa iri, kita perlu melakukan latihan ini:

Pertama, berhenti mencari bahagia di luar diri.
Maksudnya gimana? Kita berpikir kita akan bahagia asalkan hidup kita seperti hidup orang lain, terutama seperti yang dipost di social medianya. Padahal bahagia bukan soal hal-hal di luar diri, tapi lebih tentang rasa berkecukupan menjalani hidup kita saat ini, di sini-kini.

Kedua, sadari diri kita sendiri saat ini, di sini-kini.
Diam hening walau sejenak, dan sadari napas, tubuh, dan berbagai berkah indah walau sederhana di sekitar kita, yang selama ini luput dari perhatian.

Ketiga, sadari pikiran yang mengusik dalam bentuk berandai-andai, “Seandainya hidupku seperti hidupnya, pasti aku bahagia…”

Tidak perlu terlalu percaya dengan pikiran itu. Kenyataannya, kalau pun hidup kita sudah seperti hidup orang lain yang kita dambakan itu, kemungkinan besar tetap saja kita masih berkeluh kesah dan tidak bahagia. Dan orang lain yang kita lihat hidupnya begitu bahagia itu ternyata tidak sebahagia yang kita kira.

Seorang teman dulu pernah berandai-andai, “Seandainya aku punya pasangan, pasti aku bahagia…” Namun sekarang, apa yang terjadi? Meski sudah punya pasangan pun, dia tetap merasa tidak bahagia.

Jadi, yang kita perlukan adalah sadar diri bahwa hidup yang kita punya sekarang, apapun keadaannya, sudah lebih dari cukup untuk membuat kita bahagia.

Keempat, sadari ego dalam bentuk kesombongan yang membuat kita merasa sudah sewajarnya kita mempunyai hidup seperti sekarang ini.

Padahal kalau kita lihat lebih dalam, hidup kita beserta segala momen yang menyertainya itu bukanlah hal yang biasa-biasa saja. Itu semua enggak muncul begitu saja layaknya sulap. Namun momen saat ini, di sini-kini merupakan keajaiban. Sesederhana sadarilah keajaiban tubuh, pikiran dan napas yang menemani.

Semesta dan gemulai tarianNya membuat momen ini tersaji di depan mata kita. Kita mendapatkan hak sangat istimewa untuk menjadi saksi percikan-percikan keindahanNya. Menakjubkan.

Terhenyak sambil tak terasa pipi saya basah karena tetesan air mata haru. Dengan latihan itulah, saya perlahan memulihkan rasa iri…

Posted on August 10th, 2019