Menyelami Kesepian

Sebelum kondisi begini, adakalanya saya merasa kesepian. Tapi sekarang ini, kesepian menghujam begitu pekat. Apa kamu juga mengalaminya? Dulu itu kalau saya ingin mengusir kesepian, tentu saja mudah. Saya tinggal menemui keramaian.

Tapi ternyata di dalam kemudahan ini, ada kesulitan yang tak saya sadari.

Sering menemui keramaian, hanya ikut-ikutan saja apa yang dilakukan banyak orang, tentu akan bikin saya punya banyak teman. Jumlah followers pun jadi bertambah. Seru nan mengasyikkan bukan? Tapi saya jadi asing dengan diri sendiri. Terlalu jauh terseret kerumunan.

Saya jadi mirip dengan kebanyakan orang. Serupa massa. Masalahnya, saya jadi kehilangan keunikan. Ditambah lagi, orang-orang juga terkondisi untuk tidak mengenal bahkan tidak menghargai satu sama lainnya sebagai individu-individu dengan keberagaman. Apa akibatnya? Cenderung memaksa untuk sama. Alergi dengan beda.

Jadi syarat agar saya mengenal diri sendiri, agar orang-orang di sekitar juga mengenal saya sebagai individu yang punya warna sendiri, ya kenyataan pahitnya adalah saya mesti kesepian. Atau setidaknya saya mesti ngerem diri agar tidak terseret arus keramaian. Semacam seni untuk mengundurkan diri.

Hanya dalam kesepianlah barangkali saya akan lebih mampu menyapa, mengenali, menengok ke dalam diri sendiri. Jadi lebih menyadari apa yang sering saya pikirkan. Jadi lebih menyadari pula apa yang terselip dalam perasaan. Kalau dalam keramaian, tanpa kesepian, saya tak akan bisa menyelaminya.

Makin saya benar-benar tahu misi jiwa saya, semakin saya setia dengan rute perjalanan yang saya pilih untuk ditempuh, maka kemungkinan besar semakin saya akan mudah dikunjungi kesepian. Kalau saya terus di keramaian, terus melarikan diri dari kesepian, ya saya perlu menelan akibatnya, yaitu jadi manusia yang sebatas cuma ikut-ikutan saja apa kata banyak orang.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

34

Sebelumnya:
«