Menyalahkan Diri Sendiri?

Seingatku, aku pernah melakukan kesalahan. Tak cuma satu, tapi banyak kesalahan. Kesalahan itu berupa perkataan, sikap, perbuatan dan keputusan. Apa kamu juga pernah melakukan kesalahan? Mungkin semua pernah melakukan kesalahan. Tapi tak semua mau merasa pernah melakukan kesalahan.

Selama ini aku terus bertanya-tanya: “Apa kesalahanku bisa dimaafkan?”. Aku juga dihantui berlebih rasa bersalah. Hingga tanpa kusadari, aku jadi mudah menyalahkan orang lain, suka bertengkar dan gemar marah-marah. Namun akhirnya aku jadi belajar, ternyata ketika berlebih menyalahkan diriku sendiri, justru yang kurasakan semakin menderita. Inginku berbenah diri, tapi nyatanya aku terkunci masa lalu. Sebaliknya, apa yang terjadi di masa lalu bisa jadi bekal untuk bertumbuh kalau aku mampu menggunakannya sebagai proses pembelajaran.

Aku belajar dari temanku. Dia pernah nyopir, mabuk, ngebut, kecelakaan dan berakibat anaknya meninggal. Dengan tidak membenarkan nyopir mabuk ngebutnya, setelah kejadian itu, ia gunakan perasaan bersalahnya sebagai janji untuk bersikap baik pada semua anak, terutama anak-anak yatim piatu.

Dia sadar, dengan mengolah perasaan bersalah menjadi sikap yang indah, dia tetap tak bisa terhindar sepenuhnya dari karma akibat perbuatan di masa lalunya. Tapi setidaknya, ia akan lebih mampu menerima akibatnya seikhlas mungkin.

Lagi, aku belajar dari temanku. Karena capek kerja, dia pernah mengambil sikap yang begitu tega menyakiti hati orang tercinta. Hingga hubungannya tak berlanjut lagi. Setelah sadar diri, rasa bersalahnya digunakan sebagai janji untuk membantu menguatkan hati orang-orang yang mengalami perpisahan.

Akhirnya aku belajar, di hidup ini semua mengalami proses bertumbuh. Ya meski tak jarang dalam proses itu ada momen terjatuh. Seperti sampah, kalau diolah berproses jadi pupuk untuk bunga yang indah. Kesalahan kalau diolah berproses jadi bekal untuk perjalanan yang berkah.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

9