Mengurangi Syarat Bahagia

“Sekarang ini, terlalu banyak syarat kita untuk bahagia. Akibatnya kita jadi sulit bahagia. Berlatih mengurangi syarat untuk bahagia, agar kita jadi manusia yang mudah bahagia,” begitulah pesan yang saya baca dan dengar dalam perjalanan pemulihan batin.

Sekian tahun yang lalu, salah satu syarat saya untuk bahagia adalah harus minum segelas teh di pagi hari. Kalau tidak minum, saya merasa ada yang kurang.

Pernah juga berada di suatu masa, frekuensi minum teh saya berkurang, tapi syarat saya untuk bahagia berganti menjadi harus minum kopi.

Tak hanya soal minum teh dan kopi, syarat saya yang lain untuk bahagia sebagian diantaranya harus nonton TV, harus dengerin musik, tidur harus pake AC, harus berlama-lama buka social media. Dan masih banyak lagi.

Padahal ketika begitu banyak syarat kita untuk bahagia, kita pun jadi sulit bahagia.

Pelajarannya, ternyata memang benar saya perlu berlatih mengurangi syarat saya untuk bahagia.

Makin sering kita melakukannya atau mengalaminya setiap hari, akibatnya makin besar pula kemungkinannya hal itu kita jadikan sebagai syarat untuk bahagia.

Makin sedikit syarat kita untuk bahagia, makin ringan beban langkah kita.

Adjie Santosoputro
Author: Adjie Santosoputro

Inilah kesadaran hidup seorang Adjie Santosoputro. Lulusan cumlaude Psikologi UGM dan sempat menjadi finalis wirausaha muda bank besar di Indonesia ini punya minat besar perihal mengistirahatkan pikiran, kesembuhan luka batin, serta hidup sadar berbahagia.

Posted on February 9th, 2020