Mengurangi Syarat Bahagia

Dulu, setiap hari saya minum teh. Kalau tidak, saya merasa ada yang kurang dan tidak bahagia.

Suatu hari saya mau minum teh. Lha kok saya baru sadar ternyata persedian teh di rumah habis. Bisa beli dulu sih. Namun saya memilih bereksperimen: Gimana ya kalau seharian saya enggak minum teh? Tentu ada gejolak perasaan, tapi pada akhirnya toh saya tetap baik-baik saja. Enggak harus minum teh untuk bisa bahagia.

Dari pengalaman itu saya belajar, kalau saya merasa sesuatu adalah syarat agar saya bahagia, apalagi sudah jadi rutinitas sekian lama, maka saya jadi sulit lepas darinya. Terjerat erat. Sehingga yang ada hanya 1 kata: Harus. Kebahagiaan saya tergantung di sesuatu itu.

Bukan hanya harus minum teh, tapi juga misal harus terkoneksi internet di pagi hari, harus punya me time, harus makan kue manis, harus nonton series, harus beli barang demi mendapatkan rasa nyaman, harus begini dan harus begitu.

Emangnya salah ya? Ya enggak salah sih. Cuma lama-lama syarat bahagia jadi banyak sekali.

Pelan-pelan belajar ikhlas melepaskan berbagai syarat itu. Kalau bisa terpenuhi, ya menyenangkan. Kalau tidak, ya tak apa, tetap bahagia.

Ketika tidak melakukan yang selama ini harus dilakukan, tentu akan muncul rasa tidak nyaman. Kita perlu perlahan belajar memeluknya. Menyadari rasa itu tanpa berusaha melawan & mengubahnya. Tanpa berusaha sembunyi & melarikan diri darinya. Sehingga syarat bahagia pun satu per satu berkurang.

Semakin dikit syarat bahagia yang kita punya, semakin kita mudah bahagia. Tapi sayangnya, tidak semua orang mau melakukannya. Dan itu juga tak apa-apa.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

11

Sebelumnya:
«
Berikutnya:
»