Mengapa Tidak Bahagia?

Tidak bahagia itu bukan karena penolakan, kehilangan, patah hati, sakit, tua, mati. Tapi tidak bahagia itu lebih karena kita merasa “aku” ini begitu ada. Tidak bahagia lebih karena merasa: aku ditolak, aku kehilangan, aku patah hati, aku sakit, aku tua, aku mati.

Jadi saya tahu, kalau saya mulai menjadi tidak bahagia, merasa menderita, artinya saya terhanyut oleh ego saya sendiri. Merasa “aku” begitu ada. Semakin saya berlatih menyadari bahwa “aku” ternyata tak seada yang saya kira, semakin saya mampu merasa damai, tenteram dan bahagia.

Saya tidak berusaha bodo amat dengan “aku”. Saya juga tidak berusaha menghilangkan “aku”. Karena yang menghilangkan “aku” bisa jadi juga adalah “aku”. Saya hanya berlatih menyadari “aku”, setiap kali “aku” itu muncul. Saya masih sering tak menyadarinya.

Saat ditolak, kehilangan, patah hati, tetap perih. Saat tubuh berdarah dan sakit, tetap sakit. Tua dan mati, tetap pasti terjadi. Saya tak bisa menghindari sakit, tapi saya bisa berlatih untuk tidak menderita. Berlatih menyadari “aku” tak seada yang selama ini saya kira.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

13