Menerima Diri Sendiri Apa Adanya

Sebagai seorang laki-laki yang dibesarkan dengan tradisi “kalau perlu mengorbankan diri, demi mencintai orang lain”, pada awalnya saya masih sangat asing dengan gagasan tentang mencintai diri sendiri, atau menerima diri sendiri. Saya merasa menjadi orang yang berjarak sangat jauh dengan diri sendiri.

Entah disadari atau tidak, akibatnya berbagai macam hal, antara lain:

  • gemar mencaci maki soal tubuh sendiri.
  • bertubi-tubi menyalahkan diri sendiri atas kejadian masa lalu yang tidak sesuai harapan.
  • begitu ngotot menghalalkan segala cara untuk memperbaiki keadaan.
  • sangat takut akan mengalami kegagalan, karena merasa tak cukup mampu.
  • bergaya hidup yang sangat jauh dari sehat.
  • merasa hina dan tak cukup baik adanya.

Namun, kenyataan yang saya alami selalu meyakinkan bahwa permasalahan hidup menjadi kian rumit kalau disertai dengan rasa enggan untuk menerima diri sendiri apa adanya.

Saat itu, saya hanya terdiam. Dalam hati, saya membantah sekaligus terjebak dalam asumsi pikiran saya sendiri, “Kalau menerima diri sendiri apa adanya, berarti bakal enggak ada motivasi buat memperbaiki diri. Dengan mengutuk diri sendiri, maka jadi bahan bakar buat berbenah diri.”

Sampai pada satu titik, saya merasa sepakat dengan asumsi itu, tapi di titik itu pun saya tidak setuju.

Ternyata, tidak menerima diri sendiri juga bisa jadi batu sandungan untuk memperbaiki diri. Bahkan akan berlanjut parah ke membenci diri sendiri.

Seorang teman pernah bercerita ke saya. Semakin ia membenci dirinya sendiri, ia jadi semakin malas untuk bergaya hidup sehat. Makan dan minum yang mengundang penyakit dan tidak pernah olahraga. Akibatnya bertumpuk. Semakin menjadi-jadi penilaian buruk terhadap dirinya sendiri. Ditambah lagi, seperti terkurung dalam kondisi, ia semakin menyamankan dirinya dengan gaya hidup yang lebih tidak sehat. Kecanduan merokok, minum alkohol, nonton film porno, seks bebas, dan sebagainya. Kian terasa begitu berat untuk mau mulai memperbaiki diri.

Sebaliknya, semenjak ia terus terdorong untuk menerima dirinya sendiri apa adanya, maka ia perlahan semakin tergerak melakukan hal-hal indah dalam rangka menjaga kesehatan jiwa dan raga, berupaya mempunyai gaya hidup dan pola makan yang sehat.

Dan, kita semua tentu selalu punya pilihan untuk menerima diri sendiri apa adanya.

Seiring waktu berjalan, boleh dibilang saya jadi belajar untuk menerima diri sendiri. Menurut saya, menerima diri sendiri apa adanya itu bukan berarti pasif dan tak mau berbenah diri. Toh di hidup ini, tak ada yang bisa mengelak dari perubahan. Sebab kita semua pasti bakal berubah. Cuma pertanyaannya: “Kita berubah berlandaskan kebencian dan penyangkalan terhadap diri sendiri, atau berlandaskan cinta dan penerimaan terhadap diri sendiri?” Itu saja.

Posted on August 23rd, 2019