Mencintai Tapi Tidak Punya Cinta

Sebatas yang saya tahu, di kepala saya seolah terpatri sebuah hukum: Semakin saya mau mengorbankan diri untuk orang lain, semakin mulialah saya. Karenanya saya terus berusaha untuk memikirkan orang lain. Termasuk juga mencintai orang lain. Tapi kenyataannya, saya sering dipermainkan oleh usaha saya untuk mencintai orang lain. Ada satu pelajaran yang saya dapatkan yaitu: “Untuk benar-benar mencintai orang lain, mesti dimulai dari mencintai diri sendiri.”

Kalau saya tidak mencintai diri sendiri, lalu saya mencintai orang lain, berarti cinta yang saya berikan hanyalah kosong belaka. Cinta kosong yang hanya berupa kata-kata romantis berbalut nafsu diam-diam untuk memiliki dan menguasai, Hingga akhirnya berujung pada menyakiti dan kesimpulan prematur: “Cinta itu memuakkan. Aku tidak mau jatuh cinta lagi.”

Dan barangkali kondisi serupa terjadi pula di sisi orang yang mencintai saya.

Mungkin juga ini terjadi di banyak hubungan yang mengatasnamakan cinta. Saling mencintai, tapi sebenarnya sama-sama tidak punya cinta. Saya mengira orang yang saya cintai punya cinta. Bisa jadi orang yang saya cintai juga punya pemikiran yang sama, yaitu dia mengira saya punya cinta. Padahal saya dan dia sama-sama tidak punya cinta. Seperti sama-sama tidak punya uang, tapi saling meminta uang.

Hanya perihal waktu, kondisi sebenarnya akan ketahuan. Dan saya pun tak bisa menghindar dari betapa perihnya perasaan patah hati. Diri saya pun lihai untuk melakukan pembelaan diri yang konyol, dengan mengatakan bahwa saya telah tertipu, dikhianati, dibohongi. Dan barangkali kondisi serupa terjadi pula di sisi orang yang mencintai saya.

Akibatnya sama-sama dikuasai marah, hingga saling mencaci maki tak terkendali dan saling ingin menumpas dendam dengan balas menyakiti. Cinta yang dinanti-nanti malah berbuah benci. Dan ini semua ternyata karena berawal dari kurangnya mencintai diri sendiri.

Seringkali saya mengambil pilihan yang memberi cinta orang lain, padahal saya sendiri tak punya cinta karena saya tak ada usaha untuk mencintai diri sendiri. Karena saya terhanyut oleh pikiran, perasaan, dan keinginan saya sendiri. Karena tanpa sadar, saya takut untuk bertanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan akan cinta saya sendiri.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

14