Mencintai atau Menguasai?

Ini bukan hanya tentang cinta antar pasangan, tapi juga orang tua-anak. Setauku, sejak dulu aku punya pola pikir tentang cinta yang mungkin mirip dengan pola pikir kebanyakan orang. Kalau cinta, harus ngomong semuanya. Harus tak ada privasi. Kalau udah makin turut campur urusan personal, makin terikat, makin tak ada lagi ruang sebagai individu, maka itulah cinta. Tapi apakah yang begitu beneran cinta?

Dari banyak novel, lagu, film, yang aku tau orang yang saling mencintai itu mesti berusaha untuk tak ada lagi privasi. Namun, kenyataannya beneran cinta itu tidak demikian. Itu hanyalah emotional attachment. Itu hanyalah rasa takutku akan sisi individu dari orang yang kucintai. Aku kira mencintai, tapi tanpa sadar yang aku lakukan sebenarnya adalah menguasai.

Aku kira mencintai, tapi tanpa sadar yang aku lakukan itu berusaha menghancurkan sisi individu orang yang kucintai. Kalau orang yang kucintai juga begitu, berarti dalam hubungan cinta yang mestinya saling memberi ruang untuk bertumbuh menemui diri sejati, malah saling menghancurkan sisi individu & saling menyakiti.

Jadi aku menyimpulkan, yang selama ini aku lakukan atas dasar aku mencintai itu bisa jadi bukanlah sebenar-benarnya mencintai. Tapi ternyata hanya keinginanku untuk menguasai. Dengan berharap bisa bahagia, namun kenyataannya malah makin menderita. Sebenar-benarnya mencintai itu bertumbuh seiring menghargai privasi. Tak menghancurkan dirinya sebagai individu yang punya kemerdekaan sendiri.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

6