Marah Sama Seseorang dan Ingin Meluapkannya?

Ini kejadian sekian tahun yang lalu. Aku berjalan sendirian di trotoar jalan. Tanganku membawa banyak barang. Braaak! Seseorang jalan dari belakang begitu kasar menabrakku. Aku terjatuh dan barang bawaanku berantakan.

Aku berusaha berdiri sambil samar-samar melihat layar hpku retak, barang berceceran. Baru sadar, kacamataku terlepas. Aku mau tergesa meluapkan marahku, “Bisa jalan gak sih, Njing?! Punya mata tu dipake, Su!” Tapi sebelum ku lontarkan dari mulutku, aku melihat ternyata…

Orang yang menabrakku itu berkaki satu dan buta… Barang bawaannya juga jatuh berantakan. Kemarahanku yang tadinya enggak tanggung-tanggung ingin kuluapkan, seketika lenyap. Berubah jadi welas asih & keinginan untuk membantunya berdiri.

Berubah pula jadi kata, “Bolehkah aku membantumu? Apa ada bagian yang memar atau semacamnya?” Pengalaman itu membuatku belajar: Di hidup ini, situasinya juga kurang lebih seperti itu. Yang “menabrakku”, menyakiti hatiku, baik sengaja maupun tidak, ternyata dia dalam kondisi terluka.

Ternyata dia terluka karena peristiwa-peristiwa masa lalu yang melukai batinnya. Begitu pula diriku. Dengan terus belajar sadar diri bahwa orang “menabrak” karena dia terluka, kita pun jadi tak tergesa meluapkan marah. Kita jadi lebih welas asih, bahkan kita punya keinginan untuk mengulurkan tangan.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

10