Ketika Engkau Tiba-tiba Merasa Sedih Tanpa Tahu Penyebabnya Apa

Ketika kamu tiba-tiba merasa sedih, pingin nangis, merasa sendirian kesepian, atau tiba-tiba pingin marah, barangkali kamu mempertanyakannya. Mungkin orang-orang terdekatmu pun tak bisa menjawabnya. Apakah yang sebenarnya menjadi penyebab perasaan ini?

Dan, ketika kamu berusaha tak memikirkannya, bahkan menganggapnya sebagai hal yang remeh, perasaan itu mungkin menguat dan kian mengganggu.

Aku mengalami semua itu. Aku pernah mendapatkan pertanyaan semacam itu. Hari ini, aku ingin menjawab dan menjelaskan semuanya…

Ketika kamu tiba-tiba dikunjungi suatu perasaan, tentu ada penyebabnya, hanya saja kamu belum mengetahuinya. Barangkali perasaan itu bersumber dari perasaan masa lalumu yang belum tuntas kamu pulihkan. Mungkin kesedihan karena penolakan, sendirian kesepian karena kehilangan, atau kemarahan karena perpisahan. Kamu menjamu tamu perasaan itu dengan cara-cara terbatas yang selama ini kamu tahu, padahal itu tak sepenuhnya menyehatkan. Yaitu beberapa di antaranya dengan melampiaskan membabi buta, menekan dan mendendamnya, mengalihkan perhatian darinya, serta memberi makna atas kejadian yang kamu alami dalam rangka menenangkan hati. Perasaan itu pun menyelinap masuk ke dalam gudang alam bawah sadar. Sewaktu-waktu ia pun bisa menyelinap keluar ke alam sadar.

Apakah ada lagi penyebab lainnya? Barangkali, benar seperti tulisan Mark Wolynn di buku: “It Didn’t Start With You” bahwa bukan semata kamu yang menciptakan perasaan itu. Namun, perasaan orang tuamu di masa lalu, yang belum tuntas mereka pulihkan, diwariskan ke kamu. Perasaan itu bisa tiba-tiba muncul tanpa kamu ketahui secara pasti penyebabnya apa.

Demikianlah, ketika kamu tiba-tiba dikunjungi suatu perasaan, barangkali kamu sebenarnya diberi pesan pengingat untuk memulihkannya, agar kamu tidak tularkan terutama ke orang-orang terdekat. Caranya, ketika perasaan itu tiba-tiba datang, mungkin kamu ingin menangis, menangislah, tidak apa-apa. Sadari tarikan dan embusan napasmu, sambil berkata dalam hati. Tarik napas, “Aku sadar ini perasaan dari masa lalu…” Embuskan napas, “Diriku dan orang tuaku, tolonglah aku memulihkan perasaanku ini…”

Maka, dari cara itu, kamu mulai berlatih merasa nyaman ditemani berbagai perasaan, untuk kelak kamu akan mampu selalu merasa di rumah di manapun kamu menjejakkan langkah. Bersikap lembut kepada rasa sedih dan sepi. Bersikap ramah kepada tangis dan rasa marah.

Ketika kamu bersikap welas asih kepada segala rasa yang datang, kamu tengah membantu dirimu sendiri dan juga membantu orang tuamu agar derita di dalam dirimu berkurang.

Posted on July 8th, 2019