Kebaikan Sederhana

Suatu hari, saya bertanya kepada sepasang suami dan istri yang sudah lanjut usia soal menjaga kekuatan tali dalam hubungan cinta, “Bagaimana caranya agar suami dan istri bisa bertahan bersama-sama hingga lanjut usia?”

Jawabannya begitu sederhana. Pertama-tama, berpikirlah bahwa bangunan yang sangat megah nan kokoh terdiri dari bagian-bagian kecil sebagai pondasi yang kuat menopangnya, bahwa perjalanan yang sangat jauh dimulai dari langkah-langkah kecil terayun yang menjadi penyusunnya. Dengan menyadari benar bahwa sesuatu yang makro terdiri dari bagian-bagian mikro, maka meski orang-orang terjebak dalam lomba kemewahan, kita akan berusaha untuk terus saling melakukan kebaikan-kebaikan sederhana, selalu saling membuat senyum-senyum kecil dan bahagia. Di sanalah, akan tercipta pondasi-pondasi cinta antara suami dan istri. Selanjutnya, keduanya sedikit demi sedikit akan sama-sama punya jalinan komitmen yang kuat untuk bersama menghadapi angin juga badai yang menerjang mereka sepanjang perjalanan. Perbuatan-perbuatan baik meski sederhana, adalah asuransi terbaik untuk menyelamatkan cinta.

Namun, jangan lalu terlalu berharap dapat balasan yang serupa dari pasanganmu tatkala melakukan kebaikan. Jalinan cinta bukan hanya tentang mengharapkan balasan yang setimpal, tapi juga tentang berbuat baik tanpa merasa telah berbuat baik. Tentang mengikhlaskan keinginan untuk mendapatkan imbalan karena telah berbuat baik. Kalau yang ada di pikiranmu hanya mau berbuat baik asalkan pasanganmu juga membalas dengan berbuat baik, hanya persoalan untung dan rugi, sebaiknya jangan menjalin hubungan cinta, tetapi bikinlah start up atau gabunglah partai politik saja.

Pada akhirnya, yang kita ingat bukanlah soal bentuk tubuh, ketampanan, dan kecantikan. Tapi perihal senyuman, tatapan mata, genggaman tangan, pelukan hangat, ciuman tanpa rencana, dan hati yang menjadi tenang karenanya…

Posted on July 2nd, 2019