Kata dan Kenyataan

Misal seseorang belum pernah makan pisang. Kita yang pernah makan pisang diminta menjelaskan rasa pisang kepadanya.

Berbagai kata kita gunakan untuk menjelaskan rasa pisang. Tapi, apakah segala kata yang kita gunakan untuk menjelaskan rasa pisang, sedetail apapun itu, bisa benar-benar menjelaskan kenyataan rasa pisang?

Ternyata tidak bisa. Dan tidak akan bisa. Kata-kata selalu punya keterbatasan untuk menjelaskan kenyataan. Nah itu saja baru menjelaskan rasa pisang yang pernah kita makan lho.

Apalagi menjelaskan cinta. Apalagi menjelaskan cinta yang belum pernah kita alami. Apalagi menjelaskan sang maha cinta, Tuhan. Apalagi menjelaskan Tuhan yang belum pernah kita temui & alami. Kata-kata tidak akan bisa menjelaskan yang tidak kita ketahui dan tidak akan bisa kita ketahui.

Kata-kata akan selalu terbentur keterbatasan untuk menjelaskan cinta dan Tuhan.

Setiap kata, setiap penjelasan kita tentang cinta dan Tuhan, ada kemungkinan tak sesuai dengan kenyataannya. Jadi ya kalau sudah urusan cinta dan Tuhan, tak perlulah kita merasa paling tau dan merasa paling benar. Kalau bisa mengelaklah dari perdebatan soal ini. Mending kita makan pisang aja. Lha wong ya kita sama-sama terbatasnya kok menjangkau sepenuhnya kenyataan cinta dan Tuhan.

Balik ke pisang. Terus bagaimana cara menjelaskan rasa pisang kepada orang yang belum pernah makan pisang? Ya minta aja dia makan pisang. Beres.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

11