Karena Bahagia itu Tidak Sederhana…

“Bahagia itu ternyata sederhana ya?” tanya saya kepada Indri.

Pagi itu, Indri yang sedang menyetrika baju, tampak kaget, karena saya tiba-tiba bertanya begitu. “Iya, itu benar adanya,” katanya sambil menganggukkan kepala, “tapi kalau hanya sebatas kata-kata, semua orang bisa dengan mudah mengucapkannya. Iya, kan?”

“Iya, sih…,” jawab saya.

Saya melanjutkan obrolan. “Bahagia emang persoalan melatih diri bersikap dan berbuat dengan hati yang sederhana.”

“Iya… Dan buat kita yang terlatih mengejar kemewahan, berlatih sederhana itu tidak sederhana.” Katanya, “Hidup mah perlu ngegas dan ngerem…”

“Maksudnya?” Saya jadi penasaran.

“Ya, di hidup ini agar bahagia kita perlu belajar mengurangi dan menambah, kan? Kalau di ringkas pelajarannya menjadi beberapa kalimat singkat sebagai pengingat:

Mengurangi membeli, menambah berbagi.

Mengurangi mencampuri hidup orang lain, menambah membenahi diri sendiri dan bercermin.

Mengurangi memiliki, menambah memberi.

Mengurangi tergesa-gesa, menambah pelan-pelan saja.

Mengurangi bekerja, menambah bermain bergembira.

Mengurangi membandingkan, menambah penerimaan.

Mengurangi mengendalikan, menambah memasrahkan.

Mengurangi bicara, menambah mendengar dengan seksama.

Mengurangi gaduh ramai, menambah hening damai.

Kita mungkin masih jauh dari kondisi itu. Yang penting mudah-mudahan kita jadi pribadi yang terus belajar untuk tidak berlebihan. Iya, kan?” Indri menjelaskan dengan santai. Saya selalu suka caranya menjelaskan sesuatu yang cenderung nyeletuk di luar dugaan, sehingga seringkali mengagetkan.

“Setuju.” Saya pun termenung. Lalu saya teringat harus membuang sampah yang sudah penuh di keranjang ke bak sampah di depan rumah.

Di hidup ini, setiap kegembiraan selalu diikuti dengan kesedihan. Atau setidaknya diikuti dengan ketidaknyamanan. Layaknya tertawa terpingkal-pingkal, seringkali harus dibayar dengan air mata.

Bahagia itu tidak sederhana… Karena kami berdua mesti belajar ngerem mendapatkan kegembiraan-kegembiraan mewah yang sebenarnya bisa kita dapatkan. Mengapa mesti membatasi? Agar kesedihan yang mengikutinya pun semoga tak membuat kami terpuruk kewalahan.

Posted on November 15th, 2019