Jatuh Cinta Juga Tersusun Atas Air Mata

Pola pikir yang begitu kaku bahwa perjalanan jatuh cinta itu hanya berisi gembira dan tawa, bisa berakibat bahaya. Oleh karenanya, langkah pertama yang sebaiknya kita lakukan adalah mengubah pola pikir itu. Hampir semua cerita cinta juga berisi kecewa dan air mata. Ada yang menyadari akan hal ini. Tapi masalahnya, banyak juga yang cerita cintanya menjadi sulit karena terkunci akan pola pikir: Perjalanan jatuh cinta harus berisi hanya gembira dan tawa.

Masih ingat waktu kecil dulu? Cukup banyak anak hanya diajari “bagaimana mendapatkan yang diinginkan”, dan lalai diberi bekal “apa yang sebaiknya dilakukan ketika kenyataan tak sesuai keinginan”. Pengalaman mendengarkan keluh kesah banyak orang dari berbagai latar belakang, mengingatkan saya bahwa semasa kecil, kita jarang atau bahkan tidak dibekali kemampuan untuk menerima rasa kecewa.

Walaupun tidak semua anak kebingungan berhadapan dengan kekecewaan, tapi pengalaman saya sendiri waktu kecil, lebih dilatih agar mendapatkan kegembiraan, dan sekuat tenaga menghindari kesedihan. Kalau pun mengalami hal yang tak sesuai harapan, sering dihibur dengan perumpamaan seperti saya jatuh ke dasar jurang paling dalam. Sehingga satu-satunya jalan yang bisa saya pilih adalah ke atas. Jadi kekecewaan diartikan sebagai ujian untuk naik kelas. Kesedihan seolah harus ditinggalkan.

Apa yang terjadi saat sudah besar dan jatuh cinta? Karena kenyataan tidak bisa selalu menyenangkan, maka diri kita pun jadi tidak siap berhadapan dengan kesedihan.

Hal sederhana ini menunjukkan bahwa tanpa kita sadari, sejak kecil pelan-pelan kita diajari untuk menyangkal kenyataan bahwa perjalanan jatuh cinta selalu tersusun atas 2 sisi: gembira-kecewa, senang-sedih, tawa-air mata. Kita terlalu sibuk memikirkan “bagaimana caranya mendapatkan yang kita inginkan”, sehingga kita tak siap berhadapan dengan kenyataan yang tidak sesuai keinginan. Padahal dalam perjalanan cinta, tak bisa hanya selalu gembira. Jatuh cinta juga tersusun atas air mata.

Kekecewaan dan hati yang patah bukanlah ujian naik kelas. Tapi sebaliknya, sebagai pengingat agar kita menurunkan ego dan pulang menemui hati kita sendiri. Bukan pula berusaha mengusir atau pun melawan rasa sedih, melainkan pelan-pelan kita belajar menerima kesedihan, juga menerima rasa takut dan tidak nyaman. Pemulihan ada di penerimaan.

Agar batin tak rentan terluka karena jatuh cinta, manusia sebaiknya menyadari, jatuh cinta bukan hanya berisi gembira dan tawa, tapi juga tersusun atas kecewa dan air mata. Jatuh cinta berarti belajar menjatuhkan ego. Disertai rasa takut dan tidak nyaman, tapi bukan untuk dilawan.

Posted on October 2nd, 2019