Jangan Remehkan Ketika Hidup Sudah Terlalu Sibuk

Tadi pagi, seorang teman berkeluh kesah-sambat soal hidupnya yang sibuk parah. Setiap hari sebagian besar waktunya diisi dengan menyelesaikan satu pekerjaan lalu berpindah ke pekerjaan lain yang sudah menunggu untuk diselesaikan.

Keluh kesah itu disambut celetukan teman lain, “Aku juga. Pontang-panting menyelesaikan banyak pekerjaan, tapi hati tak pernah benar-benar merasa nyaman.”

Saya bisa memahami, karena kurang lebih saya berada di kondisi yang serupa. Lagi merintis project yang belum berjalan mulus. Baru-baru ini menjadi sobat KPR. Alhamdulillah, datang pekerjaan bertubi-tubi, tapi di satu sisi jadi menerobos batas lelah. Merasa seolah enggak mungkin kalau mesti mengurangi sibuk, apalagi menghentikan sibuk. Apa kamu juga merasakannya? Seolah kalau saya mengurangi laju sibuk, melambat, segala sesuatunya bakal hancur berantakan.

Kita pernah semasa kecil punya waktu yang luang untuk bernapas. Masa di mana yang kita tahu hanya bermain dan tertawa. Menangis juga, tapi lalu mudah sekali untuk bermain lagi, dan tertawa lagi.

Masa itu disirnakan oleh daftar pekerjaan yang harus kita selesaikan, rentetan pesan WA group dan email yang tak berkesudahan, serta meeting-meeting yang berakhir menggantung sebatas wacana.

Pikiran kita seperti browser internet. Bejubel tab yang terbuka. Begitu ramai percakapan di social media. Dan kita jadi kebingungan sendiri yang sebenarnya penting dalam hidup ini.

Mulai sekarang, boleh aja sibuk bekerja, asal jangan lupa, luangkan waktu beranikan diri untuk jeda, berhenti sejenak, bernapas dan merasa.

Kurangi laju hidup, melambat, fokus hanya pada sedikit hal yang benar-benar penting, belajar berkata “tidak”, tidur sehat, berlatih meditasi, tak tergesa, pelan-pelan aja.

Kita semua manusia perlu berani meluangkan waktu untuk berhenti, walau sejenak, untuk istirahat. Sebelum hidup kita benar-benar berhenti.

Posted on September 3rd, 2019