Jalan Keluar Patah Hati Adalah Masuk ke Dalam Diri Sendiri

Belajar menerima rasa sedih karena patah hati. Biarkan rasa itu datang. Biarkan pula rasa itu pergi. Tak perlu dilawan. Semakin dilawan, rasa itu malah akan menetap. Tak perlu pula larut menikmatinya. Bisa terjebak drama.

Kita terbiasa menganggap rasa sedih sebagai sesuatu yang buruk. Rasa sedih kita simpulkan sebagai penanda bahwa kita adalah orang yang gagal. Sehingga kita pun jadi mengutuk diri sendiri. Rasa sedih kita terjemahkan sebatas pesan untuk tergesa-gesa bereaksi, di antara 3 pilihan reaksi: melawannya, melarikan diri darinya, atau mengurung diri menikmatinya.

Sekian lama kita terjebak seolah hanya ada 3 pilihan reaksi itu. Namun ternyata ketika bersedih hati, kita punya pilihan untuk berteman dengan kesedihan, daripada sibuk menyalahkan. Bahkan ada yang saking terlatih berteman dengan kesedihan, berdamai dengan setiap perasaan yang datang, bisa lebih ramah kepada dirinya sendiri. Lebih bisa menerima kekurangan dan ketidaksempurnaan dirinya. Lebih bahagia.

Mengubah kebiasaan itu tidak mudah. Demikian pula dengan mengubah kebiasaan 3 pilihan reaksi itu menjadi berteman dengan kesedihan. Di awal pasti sulit. Namun semakin dilatih, kita akan semakin mahir untuk menyadari berkah dari hati yang patah, menyadari kedatangan menggigilnya rasa takut tanpa gegabah marah-marah, menyadari keinginan untuk balas dendam tapi enggan melampiaskan tak tentu arah.

Belajar tenang di tengah ketidakpastian dengan cara memahami bahwa hidup selalu tersusun atas ketidakpastian. Belajar untuk baik-baik saja meski dasar tempat kita berpijak lenyap dalam sekejap, karena memang pelajaran lebih dalam soal hidup ini ada pada saat kita jatuh.

Dan pada akhirnya, kita perlu berulang kali mengingatkan diri sendiri dan menguatkan tekad untuk beristirahat di tengah tarian ketidakpastian, di antara silih berganti jatuh cinta dan patah hati. Iya. Mesti terus-menerus latihan.

Posted on October 14th, 2019