Hidup Tanpa Hinaan?

Di Twitter, juga di Instagram dan WA, saya pernah menerima pertanyaan yang membuat saya tersenyum. Salah satu pertanyaan itu: Apakah mas Adjie pernah dihina?

Saya hampir tidak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu karena tadinya saya berpikir bahwa semua orang pasti sudah tahu bahwa tidak ada satupun orang yang luput dari hinaan — tak ada satu pun orang yang terbebas dari perbedaan sudut pandang. Namun, rupanya, masih saja ada yang penasaran dan mengirim saya pesan berisi pertanyaan: Kelihatannya kok, mas Adjie terus dipuji, apakah tidak pernah dicaci? Kalau pernah, bagaimana cara mas Adjie menghadapinya?

Baiklah. Mungkin saya memang harus menjawab pertanyaan semacam ini. Jawabannya: Tentu saya juga mendapat hinaan dan cacian. Untuk hal-hal pribadi dan tentang perkara-perkara pekerjaan. Saya manusia yang biasa-biasa saja: yang berbuat kesalahan, yang tidak bisa menyenangkan semua orang, yang tersulut api kemarahan jika mendapatkan kritikan.

Saya juga masih belajar bagaimana caranya menghadapi hinaan dengan senyuman.

Misalnya, suatu hari, saya membaca sebuah pesan yang menyakitkan hati: “Anda goblok sekali. Saya tidak paham dengan apa yang Anda katakan!” Atau saya diejek secara langsung di depan muka saya gara-gara sekian tahun saya belum punya anak. Ingatan akan momen itu pun masih membuat rasa marah datang menyelinap.

“Bagaimana kamu menghadapinya, Djie?” sergah Sunyi. Reaksi spontan saya untuk melindungi diri, atau membalas hinaan, seketika terasa dicegah oleh pertanyaan dari teman baik saya itu.

“Pertama. Belajar memberi jeda. Iya, reaksi spontan seketika saya mendapat hinaan adalah ingin membalasnya. Manusiawi. Tapi dengan memberi jeda, berarti ada waktu agar emosi saya surut. Tak perlu tergesa mengeksekusi reaksi. Karena seringkali reaksi yang dipenuhi emosi lebih menyebabkan bahaya daripada bahagia.”

Sunyi berusaha memahami. “Apakah hanya dengan begitu, sudah cukup?”

“Seringkali tidak cukup.” Saya menjelaskan lebih lanjut. “Belajar juga melihat lebih utuh. Di dalam sesuatu yang menyebalkan, tersimpan berkah. Dan di dalam sesuatu yang menyenangkan, tersimpan musibah.” Sunyi mengangguk.

Tentu saja, saya melanjutkan penjelasan yang menggantung itu. “Saya menerapkannya untuk menyikapi hinaan dan pujian. Di dalam hinaan, ada sisi berkahnya, yaitu saran yang jujur untuk membenahi diri. Dan berproses untuk terus membenahi diri berarti menandakan saya selalu bertumbuh. Berbenah diri merupakan sesuatu yang indah.

Memang ada juga sih hinaan yang sama sekali tak ada unsur sarannya. Hinaan yang dilayangkan oleh seseorang karena ia tertimpa kepahitan, dan marah kepada dirinya sendiri. Lalu kemarahan itu ditumpahkan ke saya. Hinaan seperti ini biasanya saya abaikan.”

“Kalau menyikapi pujian?” Suara Sunyi bertanya.

“Pujian pun kalau tidak hati-hati bisa menuntun ke jurang musibah, yaitu ego yang dimanjakan. Kesombongan yang kian menjadi-jadi. Merasa diri paling hebat. Berulang kali ingatkan diri, terutama saat mendapatkan pujian: Selain sisi-sisi hebat, diri saya juga tersusun atas sisi-sisi yang sesat.”

“Ya. Karena kemarahan kita saat mendapatkan hinaan itu bukan hanya karena kita membenci hinaan, tapi bisa juga karena keserakahan kita untuk mendapatkan pujian.”

“Saya pun belajar berterima kasih kepada orang yang menghina saya,” tambah saya.

“Kenapa perlu berterima kasih? Dia kan udah merendahkanmu?”

“Dia yang menghina saya, memposisikan dirinya lebih tinggi dari saya. Tapi dengan saya berterima kasih kepadanya, sebenarnya saya tidak mengikuti permainan yang dia inginkan. Saya melihat hinaan tersebut sebagai saran untuk membenahi diri saya. Dan kalau dia menghina saya sebenarnya lebih karena dia marah dengan dirinya sendiri, ucapan terima kasih saya akan membantu dia untuk meredakan kemarahannya.”

“Iya, ngerti… Tapi, harus rasional juga. Kalau dia tidak mempedulikan ucapan terima kasihmu, gimana?”

“Kalau begitu, setidaknya ucapan terima kasih itu bermanfaat baik untuk diri saya sendiri. Mengingatkan saya untuk tidak terlalu membenci hinaan, tidak terlalu serakah pujian.”

Demikianlah, saya juga mendapatkan hinaan, seperti manusia lainnya. Saya masih perlu belajar menghadapi hinaan dengan senyuman. Dan saya pun masih sering membalas hinaan dengan kemarahan.

Hinaan memberi saya pelajaran yang indah. Namun tak mudah, karena saya masih sering lupa diri, masih sering menganggap bahwa saya selalu benar. Padahal kenyataannya, tidak ada manusia yang selalu benar. Ada kemungkinan saya salah, dan hinaan itu benar. Jadi, saya belajar melihat hinaan sebagai saran untuk berbenah diri.

Lalu, mengapa saya terlihat tak mudah terpancing marah? Tentu saja, karena saya mengartikan setiap hinaan itu bukan sebagai hinaan ke diri saya seutuhnya. Tapi sebagai hinaan hanya ke sebagian diri saya. Misalnya, orang menghina tulisan saya. Maka saya mengartikan hinaan itu untuk tulisan saya, bukan untuk diri saya seutuhnya. Sehingga saya bisa lebih berjarak dengan hinaan itu dan memilih tanggapan yang berasal dari batin yang lebih tenang.

Kalau menghina orang yang menghina, bukankah berarti kita menyamakan diri kita selevel dengan orang yang menghina kita? Kalau dia bersikap menyebalkan dengan menghina kita, kita perlu belajar untuk tidak bersikap serupa. Kita tidak perlu ikutan jadi orang yang menyebalkan juga.

Kemarahan karena merasa dihina tak perlu juga diumbar di social media. Cukup dijadikan pembelajaran masing-masing. Yah, mungkin semesta memang cara bekerjanya seperti itu. Mencari keseimbangan.

Semakin banyak yang mencintai, pasti akan semakin bermunculan pula yang membenci. Semakin banyak mendapatkan pujian, pasti akan semakin berdatangan pula hinaan.

Posted on October 31st, 2019