Hidup Harus Punya Tujuan?

Seingatku, pola asuh orang tuaku di rumah, guruku di sekolah, lingkungan sejak aku kecil, semacam memprogram diriku untuk harus punya tujuan. Lalu dilatih untuk berusaha keras mencapai tujuan & menemukan passion. Hidup dipahami sebatas seperti travelling. Maksudnya gimana?

Ada titik berangkat & titik tujuan. Di antaranya ada petunjuk arah yang jelas. Pola pikir ini kusebut sebagai pola pikir “mencapai tujuan”. Apa yang kualami selalu kubandingkan dengan tujuan yang aku punya. Hanya bahagia setelah mencapai tujuan. Contohnya gimana?

Kalau tujuanku punya uang dalam jumlah tertentu, maka hanya bahagia kalau udah punya uang segitu. Kalau tujuanku punya jabatan tertentu, maka hanya bahagia kalau udah berada di posisi itu. Kalau tujuanku punya pasangan, maka hanya bahagia kalau udah menikah.

Karena di hidup ini titik berangkat-titik tujuan serta petunjuk-petunjuk arahnya enggak sejelas saat travelling… Pola pikir yang terprogram sejak kecil: Harus punya tujuan & mencapai tujuan ini, membuatku mudah overthinking. Mbundet ruwet sakarepe dewe dan menyalahkan diri sendiri. Bahkan udah mencapai tujuan pun tetap aja aku enggak bahagia.

Seiring berjalannya waktu, aku sadar ternyata aku juga perlu bebas dari jadi budak pola pikirku sendiri yang udah terprogram sekian lama. Dengan melatih pola pikir “menyadari perjalanan”. Mengendurkan jeratan tujuan. Bahkan ada kalanya enggak punya tujuan. Hanya menyadari keindahan tiap momen.

Seperti anak kecil yang baru belajar berjalan. Tidak terlalu sibuk menilai benar-salahnya dibandingkan dengan tujuan yang dipunya. Ia bahkan barangkali tidak punya tujuan dari berjalan. Berjalan hanya untuk berjalan saja. Sadar penuh hadir utuh dalam keindahan berjalan.

Akhirnya aku sadar, aku perlu mengurangi jeratan tujuan. Bukan semata menemukan passion, tapi juga berlatih compassion. Tercapai atau tidaknya tujuanku, atau tercapai dalam bentuk yang berbeda dari ekspektasiku, bukanlah sepenuhnya kuasaku. Aku hanya melakukan yang perlu dilakukan.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

10