Doa yang Tidak Terkabul

Seingatku, sejak kecil aku diajari kalau ingin sesuatu, mintalah kepada Tuhan lewat doa. Bahkan ketika aku ingin permen & ndilalah baru enggak boleh makan permen, aku pun diminta berdoa minta permen kepada Tuhan. Apapun permintaan di dalam doaku: Ketika doaku terkabul, aku gembira. Ketika doaku enggak terkabul, aku sedih.

Seiring berjalannya waktu, pemahamanku tentang doa berubah. Salah satunya karena cerita pendek berikut ini:

Tanya murid pada gurunya, “Kenapa guru begitu bahagia padahal doamu tidak terkabul?”

Jawab gurunya, “Kalau doaku terkabul, aku bahagia. Tapi itu mungkin aja keinginanku. Kalau doaku tidak terkabul, aku lebih bahagia. Karena itu pasti kehendakNya.”

Aku jadi sadar selama ini ternyata isi doaku penuh dengan aku minta ini dan itu kepada Tuhan, atau bahkan aku mengatur-atur dan menyuruh-nyuruh Tuhan agar mengabulkan keinginanku. Isi doaku penuh dengan keinginanku, penuh dengan ego, penuh dengan “aku”. Padahal barangkali sebenar-benarnya berdoa itu ketika tak ada lagi “aku”.

Semakin orang sadar diri, bisa jadi isi doanya:

“Ya Tuhan, jangan kabulkan keinginanku. Kabulkan saja dan jadilah kehendak-Mu.” Dan juga mungkin puncak doanya adalah: “Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.” Saat ini, sepertinya aku masih jauh dari sadar diri.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

14