Cinta Tak Pernah Bohong

Saya berteman dengan sepasang suami-istri, Adi dan Ayu. Sejak kali pertama berkenalan dengan mereka berdua, tak perlu waktu lama saya segera akrab. Selain sering bertemu di acara-acara kumpul teman, saya. juga sering diundang untuk berkunjung ke rumah mereka.

Sore itu, Adi mengajak saya bertemu, tanpa sepengetahuan Ayu. Hari itu, Ayu tidak menemaninya. Katanya, dia ingin curhat kepada saya. Setelah ngobrol ringan, dia mengaku bahwa sudah sekian lama dia punya selingkuhan. Akibatnya dia jadi sering bohong kepada Ayu… Cerita mengenai Adi sengaja saya hentikan di sini. Saya akan lanjutkan cerita mengenai Ayu.

Suatu hari, setelah Adi curhat ke saya, Ayu gantian mengajak saya bertemu, tanpa sepengetahuan Adi. Dia juga ingin curhat kepada saya. Benar dugaan saya, dia tahu kalau Adi selingkuh. Namun, bagi saya, bukan itu yang mengagetkan… Ternyata dalam rangka balas dendam atas perselingkuhan yang dilakukan suaminya, Adi, dia mengaku bahwa dia juga punya selingkuhan. Tentu saja, karenanya dia jadi rajin berbohong kepada Adi. Dan, tentu saja keduanya sama-sama takut kalau ketahuan. Namun, di tengah drama perselingkuhan yang terjadi ini, saya berusaha mencerna cerita itu sejernih mungkin. Sekilas adalah tentang perselingkuhan. Kebohongan.

Kini, beberapa tahun kemudian, Adi dan Ayu terus hidup bersama cinta. Tuhan mengaruniai mereka seorang putra, Iqbal namanya. Pada akhirnya, setelah berulang kali konsultasi sama saya, singkat cerita mereka saling jujur atas kebohongan yang telah dilakukan, hingga pada suatu hari mereka terperangkap dalam 2 pilihan: Terus bersama tapi pahit, pingin berpisah tapi sulit. Namun, setelah mereka saya ajak bersama-sama berlatih menenangkan batin, muncul energi welas asih dalam hati yang kian menguat, sesuatu yang membuat mereka berani untuk saling memaafkan, membuat mereka tak mau redup untuk saling mencintai lagi, dan memilih pilihan 3 yang sebelumnya seolah tak ada, yaitu: Bersama dan bersedia belajar merajut lagi cinta yang manis.

“Hayo jangan bohong, Iqbal…” kata Adi.

“Iqbal enggak bohong kok, bapak. Iqbal cuma makan permennya 2.” sahut Iqbal, sambil menyembunyikan permen ke 3 di dalam mulutnya.

Saya melihat Adi dan Ayu. “Iya, jangan bohong lho,” sahut saya.

Kami bertiga tertawa. Tentu saja kami tahu tentang maksud dari kalimat yang baru saja saya lontarkan.

Tentu saja kami tahu, kalau benar-benar cinta, perlu keberanian untuk tak pernah bohong…

Ya, seorang pembohong pun enggak mau kalau dibohongi. Dan sesering apapun seseorang berbohong, dia selalu tak akan bisa membohongi dirinya sendiri.

Lalu, saya melihat Iqbal membuang permen ke 3 dari mulutnya. Membuangnya di sampah.

Posted on July 11th, 2019