Gimana Caranya Supaya Tidak Terbayang Lagi Masa Lalu Itu?

  Adjie Santosoputro |   August 7, 2020

“Pasanganku pernah berhubungan seks dengan mantannya. Setiap aku lihat pasanganku atau mantannya, seringkali yang muncul di pikiranku adalah bayangan mereka berhubungan seks. Ini sangat mengangguku. Gimana ya caranya supaya aku tidak lagi terbayang masa lalu itu?” Tanya Awan kepada Langit.

Jawab Langit:

“Kalau kita berlatih menyadari sepenuhnya nafas kita… Saat menarik napas, kita latih pikiran kita untuk menyadari sepenuhnya tarikan napas itu… Saat menghembuskan napas, kita latih pikiran kita untuk menyadari sepenuhnya embusan napas itu…

Bayangan masa lalu itu mungkin akan tetap muncul di pikiran kita sih. Tapi kita jadi sadar bayangan masa lalu itu bukanlah kenyataan di masa sekarang. Kekuatan bayangan masa lalu itu untuk mengganggu kita pun perlahan jadi lemah.”

“Saat makan… Kalau kita berlatih: makan dan hanya makan saja, makan pelan-pelan, menyadari sepenuhnya setiap suap dan kunyahan…

Saat berjalan… Kalau kita berlatih menyadari sepenuhnya langkah kaki kita… Mensyukuri setiap langkah kaki kita,

maka perasaan terganggu karena bayangan masa lalu itu pelan-pelan akan terurai lenyap.”

“Atau saat melakukan hobi… Kalau kita berlatih mengajak tubuh dan pikiran selaras sepenuhnya melakukan hobi itu, dan menikmati momen di sini-kini, maka perasaan terganggu karena bayangan masa lalu perlahan akan pudar dengan sendirinya.

Atau saat bertemu dengan pasangan… Kalau kita berlatih benar-benar menyadari penuh dirinya beserta kehadirannya. maka perasaan terganggu karena bayangan masa lalu pun perlahan akan pudar dengan sendirinya.”

Merasa masih ada ganjalan, Awan kembali bertanya:

“Iya kalau lenyap. Kalau ternyata perasaan terganggu itu masih ada?”

Jawab Langit:

“Ya kita berlatih menyadari sepenuhnya perasaan terganggu itu. Hanya mengamati. Tidak perlu tergesa bereaksi. Kita perlu berlatih sadar penuh hadir utuh di saat ini, di sini-kini. Be mindful. Menyadari apapun yang sedang terjadi, menerimanya, sesedikit mungkin menghakimi, dan mengurangi melawannya.”

Bayangan masa lalu tidak punya daya untuk mengganggu kita di saat ini, di sini-kini. Karena yang sudah ya sudah.

Begitu pula bayangan masa depan. Karena yang belum ya belum.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.


Siapa yang Mesti Aku Percaya?

  Adjie Santosoputro |   August 6, 2020

Tanya Awan kepada Langit: “Banyak orang bilang ajaran merekalah yang terbaik dan yang lain hanya omong kosong. Lalu muncul guru lain lagi yang berkata, “Jangan dengarkan orang-orang itu!”. Aku udah dengerin banyak sekali ajaran, jadinya malah aku sangat bingung. Aku enggak tahu lagi siapa yang mesti aku percaya.

Jawab Langit:

“Aku bisa memahami ini pasti membingungkan. Tentu saja kamu jadi ragu dan tidak yakin. Begini saranku: Jangan percaya atau tidak percaya begitu saja pada suatu hal hanya karena kamu mendengarnya atau membacanya. Jangan percaya atau tidak percaya begitu saja pada suatu hal hanya karena hal itu diajarkan turun temurun. Jangan percaya begitu saja hanya karena hal itu kelihatannya tampak benar. Jangan tidak percaya begitu saja hanya karena hal itu kelihatannya tampak salah. Jangan percaya atau tidak percaya begitu saja hanya karena hal itu diharuskan oleh seseorang. Bahkan jangan percaya begitu saja dengan apa yang aku katakan kepadamu.

“Lalu, apa yang mesti aku lakukan?” tanya Awan.

Langit menjawab:

“Kalau kamu tahu sendiri bahwa sesuatu itu buruk untukmu dan merugikan banyak orang, dan hal itu dikecam oleh orang yang bijak, jangan ikuti hal itu. Kalau kamu tahu sendiri bahwa sesuatu itu baik untukmu dan bermanfaat untuk banyak orang, dan hal itu dipuji oleh orang yang bijak, ikutilah.”

Sebatas yang kusadari, Langit mengajak kita untuk sungguh mencermati, mengalami, dan mempertimbangkan yang kita pelajari dengan hati-hati. Kalau setelah mengalaminya sendiri dan merasakan bahwa hal itu membawa kebaikan serta kebahagiaan untuk kita dan untuk banyak orang, barulah kita terima dan jalankan. Alangkah baiknya, kita tidak melupakan hati nurani dan kebijaksanaan kita sendiri.

Nah, jadi jangan juga percaya begitu saja ya dengan apapun yang aku tuliskan dan katakan kepadamu.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.