Berusaha Selalu Mencintai Malah Menyiksa Diri

Sebatas yang kutau, perasaanku pada pasanganku harus selalu cinta. Tak boleh ada rasa jengkel, sebel, bosan, marah apalagi benci. Tapi anehnya, ketika aku berusaha mengunci rasa cinta, aku justru menderita. Kalau rasa cinta tenggelam tak lagi ada, kupikir aku mesti berpindah ke lain hati.

Aku jadi belajar, sifat alami perasaan itu selalu berubah. Sebelumnya aku keliru. Kupikir rasa cinta itu bisa kukunci, jadi bisa selalu ada selamanya. Ternyata semua di hidup ini berubah. Bunga yang kutanam di rumahku saja pun akan layu dan tak bisa hidup selamanya.

Yang hidup, suatu hari akan mati. Yang datang, suatu hari akan pergi. Semuanya terus-menerus berubah. Begitu pula perasaan cinta. Aku belajar untuk tak perlu terlalu khawatir akan hal itu. Karena ketika rasa cinta itu tenggelam tak ada lagi, hanya persoalan waktu, suatu hari rasa cinta itu pun akan muncul ada lagi.

Ke pasanganku, adakalanya aku merasa cinta. Di lain waktu ganti merasa sebel, jengkel, bosan, marah, dsb, lalu balik lagi merasa cinta. Lalu perasaanku berubah lagi. Terus begitu. Aku belajar untuk tidak clingy sama 1 rasa, termasuk tidak clingy sama rasa cinta.

Karena kalau aku clingy sama 1 perasaan, berarti aku terjebak macet di perasaan yang telah usang. Aku justru tidak bahagia. Karena ternyata, sifat alami perasaan itu selalu flux, bergejolak terus-menerus.

Aku jadi belajar, saat rasa cinta itu tak lagi ada, aku tak perlu tergesa pindah lain hati. Barangkali dengan aku belajar hanya terus menyadari-mengamati gejolak rasa cinta yang lenyap, berganti rasa sebel bosan dan rasa lainnya, lalu muncul lagi rasa cinta… aku akan menemukan rasa cinta yang sesungguhnya. Tanpa harus berganti pasangan.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

12