Berusaha Agar Tidak Overthinking, Malah Semakin Overthinking

Kita akrab dengan cara mengendalikan pikiran supaya tenang sehingga tak lagi overthinking. Tapi bagaimana hasilnya?

Berusaha menenangkan pikiran yang tidak tenang malah semakin membuat pikiran tidak tenang. Sifat alami pikiran memang selalu mengembara. Silih berganti memori dan imajinasi. Misal muncul bayangan muka mantan. Lalu kita berusaha mengganti pikiran itu dengan membayangkan situasi di pinggir pantai. Apa yang terjadi? Betapa kreatifnya pikiran kita. Malah muncul bayangan di pinggir pantai bersama mantan. Atau muncul bayangan mantan mengajak ke pantai. Memang begitulah sifat alami pikiran.

Jadi kalau kita mau mengurangi overthinking, kita perlu berlatih mengurangi identifikasi. Mengurangi menganggap diri kita sama dengan hal-hal yang sebenarnya bukan diri kita seutuhnya (seperti kekayaan, kekuasaan, popularitas, penampilan, kualitas pasangan, jumlah followers social media, pendidikan, gelar, dan semacamnya).

Karena pikiran hanya seperti cermin. Memantulkan saja hal-hal yang menjadi identifikasi kita. Kalau kita teridentifikasi dengan pakaian, pikiran kita akan penuh berisi memori dan imajinasi soal pakaian. Kalau kita teridentifikasi dengan jumlah followers social media, pikiran kita akan sesak berisi memori dan imajinasi terkait jumlah followers. Memori dan imajinasi ini bisa menyebabkan penyesalan, kesedihan, kemarahan, kecemasan, dan berbagai perasaan lainnya.

Lalu bagaimana cara mengurangi overthinking?

Dengan berlatih mengurangi identifikasi. Ada 2 jalan:

  1. Mengurangi identifikasi dengan hal-hal yang sifatnya lebih berwujud daripada pikiran. Belajar hidup minimalis. Mengurangi yang kita rasa miliki. Menyadari hal-hal yang kita anggap diri kita seutuhnya itu sebenarnya bukanlah diri kita seutuhnya. Sehingga perlahan kita pun mampu mengurangi identifikasi kita dengan pikiran. Overthinking pun berangsur mereda.
  2. Mengurangi identifikasi dengan pikiran. Berlatih bukan mengendalikan pikiran, tapi berlatih sadar diri, bermeditasi. Menyadari napas dan menyadari pikiran. Menyadari hasil kerja pikiran yaitu memori dan imajinasi itu bukanlah diri kita. Berlatih berjarak dengan pikiran kita sendiri. Karena akar dari identifikasi adalah pikiran, maka ketika kita berlatih mengurangi identifikasi dengan pikiran, identifikasi dengan hal-hal lainnya pun otomatis turut berkurang.

Di awal perjalanan, pikiran kita terasa pergi ke mana-mana dan kita terjerat olehnya. Dengan berlatih sadar diri, bermeditasi, pelan-pelan pikiran kita tetap pergi ke mana-mana, tapi jeratannya mengendur. Kita melatih diri sebagai penonton pikiran, bukan pemain skenario film di dalam pikiran. Muncul kejernihan, dan barulah kita bisa menggunakan pikiran sesuai fungsinya dengan sebaik mungkin.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

19