Berselisih Pendapat itu Sehat

Waktu itu pukul setengah sepuluh malam ketika seorang teman harus meledakkan kemarahannya, setelah selama ini demi menghindari berselisih pendapat, ia selalu nurut sama suaminya. Suaminya masih terkaget. Rentetan peristiwa yang sudah jauh berlalu masih diingat jelas olehnya. “Dulu kamu begini… Dulu kamu begitu… Aku sebenarnya enggak setuju…” Namun, saya hanya mendengarkan suaranya yang kian lirih, juga memperhatikan mata suami-istri itu yang terus membasah dan menjatuhkan air di pipi mereka.

Lalu, saya mengingat sebuah nasihat yang saya jadikan pegangan di dalam merawat cinta: “Jika kamu mencintai seseorang, bukan berarti kamu harus selalu bungkam dan nurut sama pasanganmu. Bukan berarti kecerdasanmu sendiri kamu paksa tiarap demi menghindari selisih. Suarakanlah pendapatmu. Kalau cinta kalian memang benar-benar dewasa, akan saling menghargai pendapat. Berpendapat bukan untuk mendapatkan pujian, bukan untuk memberi makan ego yang rakus, bukan pula untuk menghancurkan pendapat yang berbeda.”

Kini, sekitar 18 tahun sejak saya pertama kali bertemu Indri, saya dengan tersenyum mengingat berbagai selisih pendapat yang terjadi di antara kami. Indri duduk di samping saya. Di kursi gandulan, sky swing-The Lodge Maribaya, yang sedang kami naiki. Rasanya ini seperti menjalani hidup dalam level mikro. Takut, karena masa depan beserta segala sesuatu yang bakal terjadi, kami sama-sama tidak tahu pasti. Namun, salah satu bekal yang cukup menguatkan kami adalah kemauan bahwa apapun ceritanya, kami akan menjalaninya berdua.

Sepanjang gandulan, saya tersenyum-senyum mengingat nasihat tadi, yang kalau disederhanakan menjadi:

Barang siapa yang tak pernah berselisih pendapat dengan pasangannya, maka bisa jadi ada salah satu yang memendam perasaannya.

Dan barang siapa yang secara berkala berselisih pendapat dengan pasangannya, maka cintanya malah akan awet sampai kelak usia usai.

Posted on June 27th, 2019