Belajar untuk Sedikit Lebih Egois

Sejak kecil saya diajari bahwa egois itu sifat yang sepenuhnya jelek. Bahkan biar lebih menyeramkan, egois itu diberi label sebagai perbuatan berdosa yang bisa bikin masuk neraka. Pokoknya: Dilarang untuk sedikit pun egois.

Seiring berjalannya waktu, saya jadi merenung mempertanyakan: Apa iya egois itu sepenuhnya negatif? Atau jangan-jangan ada sisi positifnya juga, layaknya di dalam putih ada hitam, dan di dalam hitam ada putih? Saya jadi sadar untuk belajar egois. Karena egois di takaran tertentu diperlukan.

Belajar egois berarti saya perlu belajar menjadi diri sendiri. Tidak perlu berlebihan memikirkan suara yang keluar dari mulut orang lain. Saya seimbangkan dengan memikirkan diri sendiri. Mengurangi mengurusi hidup orang lain, menambah mengurusi hidup sendiri. Barangkali untuk benar-benar memberi perhatian seisi dunia, yang mesti saya lakukan adalah memberanikan diri untuk memberi perhatian ke diri sendiri. Mungkin selama ini saya salah arah. Jadi dengan mengganti arah, yaitu belajar egois, bisa jadi saya akan lebih mudah untuk mengikhlaskan, memaafkan, dan bertemu dengan kebahagiaan.

Selama ini saya seringkali diminta untuk mencintai orang lain, tapi jarang sekali diminta untuk mencintai diri sendiri. Padahal: Bagaimana bisa saya mencintai orang lain, kalau saya sendiri kekurangan cinta untuk diri sendiri? Bagaimana bisa saya berharap orang lain mencintai saya, sedangkan saya tidak mencintai diri sendiri?

Kenyataannya, terlebih dulu saya mesti punya cinta yang akan saya berikan. Belajar sedikit lebih egois, belajar mencintai diri saya sendiri.

Semoga kita semua bisa menerima kenyataan seapaadanya.

43